- Seorang mantan narapidana terorisme berinisial A meledakkan lapak dagangan di kawasan Dadaha, Tasikmalaya, pada Sabtu malam, 11 Juli 2026.
- Insiden ini mengungkap kelemahan sistem pengawasan pemerintah serta akses mudah tersangka terhadap bahan peledak di ruang publik.
- Pakar mendesak pemerintah mengevaluasi program integrasi ekonomi dan meningkatkan anggaran pengawasan untuk mencegah aksi kekerasan serupa oleh mantan narapidana.
Suara.com - Insiden ledakan yang mengguncang kawasan Dadaha, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat pada Sabtu (11/7/2026) malam memantik sorotan sekaligus kekhawatiran.
Seorang mantan narapidana kasus terorisme (eksnapiter) berinisial A, diduga nekat meledakkan lapak dagangan milik sesama pedagang kaki lima (PKL) setelah terlibat perselisihan.
Kejadian ini dinilai menjadi alarm keras bagi sistem keamanan dan pembinaan pasca-bebas bagi para mantan warga binaan kasus terorisme di Indonesia.
Kepala Program Studi Kriminologi Institut Andi Sapada, Tegar Bimantoro, memberikan analisis mendalam terkait aksi nekat tersangka.
Menurutnya, fakta bahwa seorang eksnapiter masih memiliki akses dan kemampuan menggunakan amunisi aktif di ruang publik adalah bukti nyata adanya lubang besar dalam sistem pengawasan yang dijalankan pemerintah.
Tegar menilai hal ini tidak bisa dianggap sebagai kriminalitas biasa karena latar belakang taktis yang dimiliki pelaku.
Tegar Bimantoro menegaskan bahwa aparat penegak hukum dan instansi terkait harus segera menjawab sejumlah pertanyaan krusial untuk mencegah kejadian serupa di daerah lain.
Fokus utama harus tertuju pada bagaimana barang berbahaya tersebut bisa tetap berada di tangan individu yang pernah terpapar ideologi radikal dan menjalani masa hukuman.
"Pertanyaan mendasar yang harus digali saat ini adalah, dari mana tersangka mendapatkan amunisi tersebut? Mengapa bisa terjadi kelalaian dalam pemantauan?" ujar Tegar dalam keterangannya, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: Tentara Israel Tewas Terbunuh di Ledakan Dahsyat di Lebanon, Belasan Lain Luka Parah
Lebih lanjut, Tegar mendesak pemerintah untuk segera melakukan pemetaan ulang atau mapping secara menyeluruh.
Langkah itu dinilai penting guna mendeteksi berapa banyak eksnapiter di berbagai wilayah Indonesia yang disinyalir masih memiliki kemampuan taktis serta akses terhadap bahan peledak.
Tanpa pemetaan yang akurat, risiko residivisme dengan metode kekerasan akan terus menghantui masyarakat, terutama di pusat-pusat keramaian kota.
Selain faktor keamanan murni, Tegar menyoroti akar masalah sosial-ekonomi yang menjadi pemicu gesekan di lapangan.
Insiden rebutan lapak di Dadaha dianggap sebagai puncak gunung es dari kurangnya kehadiran pemerintah dalam memfasilitasi integrasi pekerjaan bagi para mantan narapidana.
Program pemulihan yang ada saat ini dinilai belum terkoneksi secara organik dengan realitas kebutuhan pasar kerja, sehingga para eksnapiter terpaksa terjun ke sektor informal yang penuh persaingan tajam.
Berita Terkait
-
Tentara Israel Tewas Terbunuh di Ledakan Dahsyat di Lebanon, Belasan Lain Luka Parah
-
Geger Ledakan di Galian Pipa Fatmawati! Kabel Listrik Tersambar, Wajah 2 Pekerja Luka Bakar
-
Ngeri! Detik-detik Ledakan di Fatmawati Jaksel, Wajah Dua Pekerja Terluka
-
Israel Balas Serang Iran, Ledakan Guncang Teheran
-
Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Tasikmalaya Masuk Tahap Tiga
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Pilu! Korban Rudapaksa Jagakarsa Melahirkan, Bayi Terpaksa Diserahkan ke Dinsos
-
Jadi Tersangka, Kejagung Klaim Febrie Adriansyah Mundur Sukarela dan Tak Lagi Dikawal TNI
-
Skandal Korupsi Lingkaran Prabowo, Uji Transparansi dan Integritas Penegakan Hukum
-
Prabowo Perintahkan Harga Khusus BBM untuk Nelayan Kapal 30200 GT
-
Pimpinan Ponpes Pembakar Santri Segera Ditahan, Polisi Ungkap Fakta Miris Sejak 2005
-
DPR Cium Aroma Intervensi Elite Kasus Pembakaran Santri Lombok, Singgung Jaringan Nahdlatul Wathan
-
BNI Lakukan Serangkaian Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR
-
Kejagung Bantah Febrie Adriansyah Umrah Usai Tersangka: Sudah Dicekal, Masih di Indonesia
-
KPK Masih Buka Peluang Supervisi Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Siap Pantau
-
Ngeri! Sebelum Dibakar, Santri di Lombok Diduga Sering Disiksa Anak Pemilik Ponpes