News / Nasional
Rabu, 15 Juli 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi industri migas. (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia mendorong peningkatan produksi migas nasional dengan memperkuat sistem keamanan infrastruktur dari berbagai risiko gangguan operasional.
  • CEO Nawakara Dino Hindarto menyatakan pada 14 Juli 2026 bahwa ancaman fisik, sosial, dan siber dapat menghambat target produksi.
  • Industri migas perlu menerapkan sistem keamanan terintegrasi menggunakan teknologi canggih guna memastikan kelancaran operasional dan menjaga kepercayaan investor.

Suara.com - Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Di tengah upaya tersebut, sistem keamanan dinilai menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kelancaran operasional sektor hulu migas, mulai dari perlindungan infrastruktur hingga mitigasi risiko gangguan sosial dan serangan siber.

President Director & CEO PT Nawakara Perkasa Nusantara Dino Hindarto mengatakan tantangan keamanan di industri migas kini semakin kompleks. Gangguan seperti pencurian aset, sabotase, konflik sosial, hingga ancaman terhadap sistem digital dapat berdampak langsung pada keberlangsungan produksi.

"Keamanan bukan hanya soal melindungi aset, tetapi memastikan operasional berjalan tanpa gangguan sehingga target produksi dapat tercapai," kata Dino dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).

Menurut dia, banyak fasilitas migas berada di wilayah terpencil dengan area operasi yang luas sehingga memerlukan sistem pengamanan yang mampu mendeteksi potensi ancaman sejak dini.

Selain keamanan fisik, hubungan dengan masyarakat sekitar, pengelolaan isu sosial, serta koordinasi dengan para pemangku kepentingan juga menjadi aspek penting dalam menjaga kelancaran proyek migas.

Di sisi lain, transformasi digital di sektor energi menghadirkan tantangan baru. Pemanfaatan teknologi seperti Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), Internet of Things (IoT), dan sistem pemantauan jarak jauh dinilai meningkatkan efisiensi, namun juga membuka potensi risiko serangan siber terhadap sistem operasional.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Dino menilai industri perlu menerapkan sistem keamanan yang terintegrasi, menggabungkan sumber daya manusia, prosedur operasional, dan teknologi dalam satu ekosistem.

Ia mencontohkan pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) untuk analisis video, command center, drone surveillance, hingga sensor berbasis IoT dapat membantu mendeteksi gangguan lebih cepat dan mempercepat pengambilan keputusan saat terjadi insiden.

"Dalam industri migas, setiap menit downtime memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena itu, investasi pada sistem keamanan juga berkontribusi terhadap efisiensi operasional," ujarnya.

Baca Juga: Cara Baru Jaring Talenta Keamanan Siber lewat Turnamen Esports

Ilustrasi keamanan di industri migas. (Dok. ist)

Menurut Dino, keberadaan sistem keamanan yang andal juga dapat meningkatkan kepercayaan investor karena memberikan kepastian terhadap keberlangsungan proyek.

Ia menambahkan, paradigma keamanan sebagai sekadar biaya operasional sudah mulai bergeser menjadi bagian dari strategi manajemen risiko perusahaan.

"Ketika risiko keamanan dapat dikelola dengan baik, proyek menjadi lebih stabil, investasi lebih terjaga, dan iklim usaha menjadi lebih kondusif," kata dia.

Load More