Suara.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mempercepat pemanfaatan energi surya di Indonesia.
Sebuah kajian terbaru dari Institute for Essential Services Reform (IESR) memperkirakan Indonesia memiliki potensi pengembangan PLTS terapung hingga 77,8 gigawatt (GW) yang tersebar di 179 lokasi.
Temuan tersebut dipaparkan dalam studi The Technological and Economic Potential of Developing Floating Solar Power Plants in the Indonesian Archipelago yang diluncurkan pada hari kedua Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 di Denpasar, Bali.
Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan potensi tersebut terdiri atas 42,5 GW PLTS terapung di perairan darat (inland) yang tersebar di 143 lokasi dan 35,3 GW PLTS terapung di wilayah pesisir (nearshore) pada 36 lokasi.
Menurut IESR, perhitungan tersebut didasarkan pada analisis kelayakan ekonomi menggunakan indikator equity internal rate of return (EIRR) yang dibandingkan dengan weighted average cost of capital (WACC), serta mengacu pada asumsi harga listrik dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022.
Fabby mengatakan pengembangan PLTS terapung dapat mendukung target pemerintah dalam mempercepat pemanfaatan energi surya, termasuk program pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW.
"Jika dirancang dengan baik, PLTS terapung dapat menjadi bagian dari solusi untuk menyediakan listrik bersih bagi kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, sistem kelistrikan daerah, hingga menggantikan pembangkit berbahan bakar fosil yang memasuki masa pensiun," kata Fabby.
IESR merekomendasikan agar lokasi-lokasi yang dinilai berpotensi dikembangkan sebagai PLTS terapung dimasukkan ke dalam dokumen perencanaan energi nasional, tata ruang darat, maupun tata ruang laut.
Lembaga tersebut juga mendorong pemerintah menerapkan mekanisme lelang terbalik (reverse auction) dalam pengembangan PLTS terapung. Dalam skema ini, pemerintah terlebih dahulu menyiapkan kajian kelayakan sehingga pengembang dapat bersaing dari sisi harga, teknologi, dan kemampuan pelaksanaan proyek.
Baca Juga: Indonesia Punya Potensi Energi Surya Terbesar, Mengapa Pemanfaatannya Masih Minim?
Menurut IESR, pendekatan tersebut berpotensi menghasilkan tarif listrik yang lebih kompetitif sekaligus mempercepat pembangunan proyek yang telah siap dikembangkan.
Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Sunandar, mengatakan percepatan energi surya tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur pembangkit.
Ia menilai aspek pemberdayaan masyarakat juga perlu menjadi bagian dari proses pengembangan.
"Selain pembangunan fisik, pemberdayaan masyarakat juga perlu menjadi perhatian. Keberhasilan pengembangan energi surya tidak hanya dilihat dari fasilitas yang dibangun, tetapi juga dari manfaat yang diterima masyarakat," ujar Sunandar.
Menurutnya, koordinasi antarpemangku kepentingan diperlukan agar rekomendasi kebijakan dan pelaksanaan proyek dapat berjalan lebih terarah sehingga target pengembangan energi surya dapat tercapai.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
5 Parfum Aroma Bunga yang Fresh dan Murah di Indomaret untuk Wangi Sehari-hari
-
Wamensos Bahas Sekolah Rakyat, PPSE dan Perlindungan Korban Bencana Non-Alam Bersama Tiga Pemda
-
Review Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis: Hangat, Realistis, dan Bermakna
-
Pelajaran dari Surabaya: Penyangga Ekonomi yang Sering Diremehkan
-
Kajian IESR: Indonesia Punya Potensi 77,8 GW PLTS Terapung, Apa Tantangan Pengembangannya?
-
6 Cara Membedakan Jam Tangan Seiko Asli atau Palsu, Biar Tidak Tertipu saat Beli
-
Imigrasi Sumut Jalin Sinergi dengan Pemkab Batubara untuk Hadirkan Layanan Keimigrasian
-
Tak Lagi Malu-malu, Haji Isam Kini Jadi Pengusaha Paling Banyak Mondar-mandir di Istana
-
John Herdman Pusing Pilih 23 Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026, Persaingan Makin Ketat
-
Cari Tablet 9,7 Inch Nyaman Digenggam? Ini 3 Pilihan Terbaik dengan Layar 120Hz, Harga Rp1 Jutaan