News / Nasional
Jum'at, 17 Juli 2026 | 17:51 WIB
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). [Unsplash]
Baca 10 detik
  • Sebanyak 63,2 persen generasi muda tetap membagikan cerita pribadi kepada AI meskipun sadar akan risiko kebocoran data.
  • Pakar menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan identitas dan data sensitif agar tidak disalahgunakan oleh platform teknologi AI tersebut.
  • Psikolog menegaskan bahwa AI hanya berfungsi sebagai alat bantu dan tidak dapat menggantikan peran konselor profesional.

Suara.com - Di tengah meningkatnya tren generasi muda mencurahkan isi hati (curhat) kepada artificial intelligence (AI), para pegiat literasi digital mengingatkan agar pengguna tetap berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi kepada chatbot.

Riset Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) menunjukkan 63,2 persen responden tetap membagikan cerita pribadi kepada AI, meski sebagian besar menyadari adanya risiko terhadap keamanan data.

Sebanyak 88,7 persen responden percaya AI mungkin menyimpan data percakapan mereka, 90,9 persen menilai kebijakan privasi platform AI belum cukup jelas, dan 75,1 persen khawatir data tersebut dapat disalahgunakan.

Founder Sobat Literasi Indonesia, Nix Hadid Alonzo Permadi, mengingatkan masyarakat untuk selalu berpikir kritis setiap kali menggunakan AI.

ilustrasi ChatGPT [pexels/Shantanu Kumar]

"Yang perlu terus kita tanyakan setiap kali pakai AI itu sederhana. Informasi ini benar atau tidak, dari mana sumbernya, apakah ada bias, apakah data saya aman, dan informasi apa yang sebaiknya tidak saya bagikan ke AI," ujar Nix dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).

Berdasarkan temuan riset dan prinsip perlindungan data pribadi, ada sejumlah informasi yang sebaiknya tidak dibagikan kepada AI, antara lain:

  • Nomor identitas pribadi, seperti NIK, paspor, atau SIM.
  • Kata sandi (password) dan kode OTP.
  • Nomor rekening maupun data kartu pembayaran.
  • Dokumen pribadi yang bersifat rahasia.

Informasi sensitif mengenai kondisi kesehatan, keluarga, maupun persoalan pribadi yang dapat mengungkap identitas.
Meski AI dapat menjadi teman berdiskusi, psikolog sosial Syurawasti Muhiddin menegaskan chatbot tidak dapat menggantikan peran konselor atau psikolog.

"AI dapat menjadi alat bantu, tapi jika seseorang membutuhkan diagnosis medis atau psikologis yang akurat, AI tidak memiliki kapasitas untuk menyediakannya," jelas Syura.

Ia menilai AI sebaiknya diposisikan sebagai sistem pendukung, bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang menghadapi persoalan psikologis yang serius.

Baca Juga: 8 Wilayah Nikmati Blanket Coverage, Jaringan 5G XLSmart Kini Jangkau Jawa Timur

Load More