- Solidaritas Perempuan menyampaikan temuan asesmen di Jakarta pada Selasa, 28 Juli 2026, terkait pembentukan Koperasi Desa Merah Putih.
- Pembentukan koperasi yang terburu-buru demi target delapan puluh ribu unit membuat masyarakat desa kekurangan informasi utuh dan ruang partisipasi.
- Proses rekrutmen manajer yang kurang transparan serta minimnya keterlibatan perempuan menunjukkan prinsip dasar koperasi belum sepenuhnya terwujud.
Suara.com - Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah daerah dinilai dilakukan terburu-buru demi segera mencapai target Presiden Prabowo yang ingin ada 80 ribu KDMP seluruh Indonesia.
Solidaritas Perempuan menemukan, proses pembentukan yang dilakukan secara terburu-buru tersebut berpotensi membuat masyarakat desa belum memperoleh informasi secara utuh mengenai tujuan, mekanisme pembentukan, tata kelola, hingga jenis produk yang akan dijual melalui koperasi.
Staf Peneliti dan Pengembangan Solidaritas Perempuan, Finna Falah Husani, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari hasil asesmen organisasi di berbagai wilayah pengorganisasian Solidaritas Perempuan.
"Proses pembentukannya cenderung dilakukan secara terburu-buru untuk memenuhi target dari presiden yang 80 ribu itu. Sehingga sosialisasinya itu lebih bersifat satu arah dan juga belum membuka ruang dialog yang bermakna dalam masyarakat," kata Fanni dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Ia menyebut kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya ruang partisipasi masyarakat, terutama perempuan, dalam proses pembentukan KDMP.
"Perempuan khususnya, kesulitan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan maupun memberikan persetujuan berdasarkan informasi yang memadai atau Free, Prior and Informed Consent (FPIC)," tutur Finna.
Selain itu, Solidaritas Perempuan juga menemukan mekanisme rekrutmen manajer KDMP di sejumlah daerah dinilai sulit diakses masyarakat.
Di wilayah Floba Morata (Flores, Sumba, Timor, Alor) juga Mataram, mekanisme rekrutmen manajer KDMP dinilai terlalu tinggi. Sehingga sulit diakses oleh masyarakat dan juga dinilai kurang transparan.
Finna mengatakan perempuan di sejumlah daerah bahkan mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses pembentukan koperasi. Salah satu temuan berasal dari Kelurahan Mujamuju, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Baca Juga: Belum Ada Kuota Khusus, Penyandang Disabilitas Tertinggal di Program Andalan Prabowo
"Mereka mengaku tidak pernah dilibatkan, tahu-tahu sudah dibentuk KDMP-nya, padahal kami tidak tahu itu apa dan juga tujuannya bagaimana juga tidak tahu. Tahu-tahu sudah dibentuk saja KDMP itu," katanya.
Berdasarkan temuan tersebut, Solidaritas Perempuan menilai prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi yang menjadi fondasi koperasi belum sepenuhnya tercermin dalam proses pembentukan KDMP di sejumlah daerah.
"Hal ini menunjukkan bahwa prinsip transparansi, akuntabilitas, dan juga partisipasi yang harusnya menjadi fondasi dari koperasi itu sendiri belum sepenuhnya diwujudkan oleh pembentukan KDMP ini," pungkas Finna.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
Terkini
-
Lagi Booming di Korea! Mainan Bola Lilin 'Wakppubol' Ampuh Usir Stres, Kok Bisa?
-
Segini Tinggi Tsunami yang Mungkin Terjang Jepang Sore Ini
-
Minim Partisipasi Warga, Pembentukan Koperasi Merah Putih Dinilai Terburu-Buru dan Kurang Transparan
-
Siapa Burhanuddin Abdullah? Diisukan Jadi Calon Gubernur Bank Indonesia
-
Pilihan Mobil Keluarga Harga Terjangkau Jelang GIIAS 2026
-
Ekspor Mineral Kritis Tersendat, Kementerian ESDM Benahi Aturan Kandungan Logam Tanah Jarang
-
61,1 Persen Publik Tak Yakin Koperasi Merah Putih Akan Berkembang
-
Film Live-Action Look Back Masuk Kompetisi Festival Film Venesia ke-83
-
Review Film The Dink: Transisi Karir Atlet Muda hingga Menjadi Pelatih
-
Kenapa Perry Warjiyo Mundur dari Jabatan Gubernur BI?