- Pengamat UGM Agustinus Subarsono mengingatkan pemerintah pada 10 Agustus 2026 agar mewaspadai potensi korupsi dalam proyek pergantian buku nasional.
- Pengadaan buku seragam secara nasional dikhawatirkan mengabaikan keragaman budaya serta kebutuhan pendidikan di berbagai daerah kepulauan Indonesia.
- Pemerintah disarankan menjadikan pergantian buku sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang berbasis bukti dan menyeluruh.
Suara.com - Rencana pemerintah mengganti buku pelajaran siswa SD hingga SMA secara nasional kembali berpotensi membuka proyek pengadaan bernilai besar yang rawan disusupi praktik korupsi.
Pengamat Kebijakan Pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono, mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah menjalankan kebijakan tersebut tanpa sistem pengawasan yang ketat.
"Pertama, implikasi ekonomi. Pergantian buku secara nasional membutuhkan anggaran yang tidak sedikit di tengah kondisi perekonomian kita sekarang yang sedang mengalami defisit fiskal," kata Subarsono kepada Suara.com, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, pengadaan buku secara nasional akan melibatkan anggaran dalam jumlah besar, mulai dari produksi hingga distribusi ke berbagai daerah. Skala proyek tersebut membuat aspek transparansi dan pengawasan menjadi sangat penting agar anggaran negara tidak disalahgunakan.
"Kondisi ini membuka akses terjadinya proyek berskala besar dan kalau tidak ada pengawasan yang pantas berpotensi menimbulkan korupsi dalam tahap pengadaan dan distribusi buku," tegasnya.
Ia mengingatkan risiko penyimpangan tidak berhenti pada proses pengadaan. Distribusi buku ke seluruh wilayah Indonesia yang memiliki kondisi geografis dan infrastruktur berbeda juga membutuhkan tata kelola yang ketat agar tidak menjadi celah baru bagi praktik korupsi.
Maka dari itu, pemerintah diminta tidak terburu-buru mengeksekusi kebijakan pergantian buku sebelum memiliki kajian yang kuat. Menurutnya, kebijakan pendidikan seharusnya berbasis bukti, bukan sekadar persepsi atau keputusan yang tidak didukung kajian memadai.
"Kebijakan pergantian buku pelajaran sepantasnya tidak dilakukan secara serampangan apalagi tanpa berbasis evidence, sekedar persepsi," tandasnya.
Selain risiko korupsi, kata Subarsono, ada potensi masalah lain apabila pemerintah menerapkan pengadaan buku secara seragam di seluruh Indonesia. Kebijakan yang terlalu terpusat dinilai dapat mengabaikan keragaman kebutuhan pendidikan di berbagai daerah.
Baca Juga: Peran hingga Aliran Uang ke Gus Yaqut Bakal Dibongkar di Sidang Perdana Kasus Korupsi Kuota Haji
"Pengadaan buku pada tingkat nasional akan menghasilkan isi pembelajaran yang uniform dan kurang bervariasi. Sementara itu, secara geografis indonesia sangat luas dan terdiri dari ribuan pulau dengan aneka budaya dan etnik yang majemuk," ujarnya.
Alih-alih menyeragamkan semua, pemerintah sebaiknya membedakan materi nasional dan muatan lokal agar pengadaan buku tidak sekadar menghasilkan produk seragam dalam jumlah besar.
Pendekatan tersebut dinilai dapat mencegah anggaran pendidikan tersedot untuk pengadaan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap daerah.
Pada akhirnya, pemerintah semestinya menempatkan pergantian buku sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang lebih luas, bukan sebagai program tunggal. Pembenahan harus mencakup kurikulum, kualitas guru, fasilitas, teknologi, internet, hingga metode pembelajaran.
Hal itu penting untuk menghasilkan lulusan yang lebih kompeten dan relevan dengan kebutuhan zaman serta mampu menjawab masalah kekinian.
"Penyempurnaan kualitas pendidikan, dalam skala makro kita sebut reformasi pendidikan adalah proses sistematis, terencana, dan berkelanjutan untuk meningkatkan dan memperbarui komponen-komponen sistem pendidikan," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Peran hingga Aliran Uang ke Gus Yaqut Bakal Dibongkar di Sidang Perdana Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Lebih dari 200 Orang Jadi Korban Kriminalisas Politik, Prabowo Didesak Penuhi Janji Amnesti
-
Polda Metro Dalami Legalitas Ekskul Menembak Terkait 995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel
-
Polisi Klaim 995 Pistol di Ruang Kerja Eks Ketua Yayasan Sekolah Jaksel Bukan Senpi
-
Ketua Komisi X DPR RI Minta Temuan Barang Diduga Senjata di Sekolah Diusut Transparan
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Gengsi Super Tinggi, 5 Zodiak Ini Paling Susah Bilang "I Love You" Duluan
-
Panas hingga 34 Derajat, BMKG Keluarkan Peringatan Potensi Karhutla di Sumsel
-
Heboh Pajak Rumah Kontrakan Berlaku 2027, DJP Klaim Bukan Hal Baru
-
Dua Laporan Polisi Jadi Dasar Polda Metro Jaya Bongkar Makam Sutrimo di Banyumas
-
Putusan MK soal Kuota Hangus Bakal Ubah Harga Paket?
-
Putri Hujan & Kesatria Malam: Cinta, Pengorbanan, dan Rahasia Keluarga Hanafiah
-
Tanpa Rencana Matang, Ganti Buku Pelajaran Berisiko Jadi Proyek Besar Rawan Korupsi
-
Peran hingga Aliran Uang ke Gus Yaqut Bakal Dibongkar di Sidang Perdana Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Sunscreen Apa yang Cocok untuk Kulit Berminyak dan Kusam? Ini 5 Rekomendasi Terbaik sesuai Review
-
DIY Mulai Kering Kerontang, Bantuan Pusat Menunggu Status Darurat