News / Nasional
Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:38 WIB
Aktivitas ekshumasi makam Sutrimo (42) di Pemakaman Umum Bantaragung, Desa Wlahara, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Rabu (12/8/2026) [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Tim forensik selesai mengekshumasi jasad Sutrimo di Banyumas pada Rabu (12/8/2026).
  • Pemeriksaan visual tidak menemukan tanda kekerasan, namun penyebab kematian menunggu hasil uji laboratorium.
  • Polda Metro Jaya meningkatkan kasus kematian ini ke tahap penyidikan berdasarkan laporan kepolisian.

Sementara Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menegaskan hasil ekshumasi dan autopsi hari ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab kematian Sutrimo.

"Kami memahami bahwa proses ini bukanlah hal yang mudah bagi keluarga, oleh karena itu rangkaian kegiatan dilaksanakan secara profesional, hati-hati, dan tetap menghormati martabat almarhum serta perasaan keluarga," ucap Budi.

Ekshumasi berlangsung sekitar tiga setengah jam, mulai pukul 09.30 WIB hingga 13.00 WIB. Proses tersebut melibatkan tim multidisiplin dari Polda Metro Jaya, Polda Jawa Tengah, PDFMI, Laboratorium Forensik Polri, hingga sejumlah unsur akademik.

Sampel yang telah diambil selanjutnya diperiksa di laboratorium untuk mendapatkan bukti ilmiah mengenai penyebab kematian.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan hasil ekshumasi dan autopsi akan menjadi salah satu alat bukti dalam penyidikan.

Kasus tersebut telah dinaikkan dari penyelidikan ke tahap penyidikan setelah polisi menemukan dugaan adanya peristiwa pidana berdasarkan laporan yang diterima dari Bareskrim Polri dan Polresta Banyumas.

"Kegiatan ini adalah bagian dari proses penyidikan yang sedang kami laksanakan sehubungan dengan adanya dua laporan polisi yang diterima di Bareskrim Polri dan di Polresta Banyumas," ungkap Iman.

Rumah Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. (Suara.com)

Kematian Sutrimo Penuh Kejanggalan

Sutrimo (42) sempat bekerja sebagai Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah. Ia ditemukan tidak sadarkan diri di halaman Mordent Aesthetic Clinic, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026).

Baca Juga: Febrie Adriansyah Bantah Sutrimo Berstatus Karumga, Tugasnya Lebih Sering Menjaga Rumah Kosong

Saat kejadian ia sempat dibawa ke RS Muhammadiyah Taman Puring dan dinyatakan meninggal dunia.

Sejumlah saksi menyebut korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa. Jenazah kemudian dibawa ke kampung halamannya di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas.

Kematian Sutrimo sempat disebut keluarga berkaitan dengan angin duduk. Namun, proses pemulangan jenazah kemudian menyisakan sejumlah pertanyaan.

Jenazah yang diperkirakan tiba sore hari baru sampai di desa sekitar pukul 22.00 WIB dan dimakamkan tengah malam. Rombongan pengantar hanya menyerahkan sejumlah dokumen, KTP, dan santunan kepada keluarga.

Barang pribadi Sutrimo, termasuk telepon genggam, disebut tidak ikut diserahkan. Dua orang pengantar yang mengenakan jaket hijau juga disebut hanya memperkenalkan diri sebagai "keamanan Jakarta".

Di tengah proses penyidikan, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) turut bergerak memberikan pendampingan kepada keluarga setelah mereka meminta perlindungan.

Kini, hasil pemeriksaan tim forensik dalam ekshumasi menjadi salah satu petunjuk penting bagi penyidik untuk memastikan penyebab kematian Sutrimo dan mengungkap dugaan pembunuhan yang tengah diselidiki.

"Berikan kami kesempatan untuk berupaya dan berbuat semaksimal mungkin sehingga pihak keluarga dan publik juga memperoleh kepastian apakah peristiwa ini betul-betul sebuah peristiwa pidana—sehingga pada akhirnya harus ada yang bertanggung jawab atas peristiwa ini," pungkas Iman.

Load More