- Liauw Lany menyatakan istilah penculikan Soekarno-Hatta pada 16 Agustus 1945 kurang tepat dan sebaiknya diganti menjadi diamankan.
- Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok dipilih karena aman, sepi, serta jauh dari jangkauan pengawasan tentara Jepang.
- Rombongan meninggalkan rumah Djiauw Kie Siong menuju Jakarta pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945 setelah berbuka puasa.
Suara.com - Di balik dinding hijau Rumah Djiauw Kie Siong, tersimpan cerita tentang salah satu momen penting menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Namun, bagi Liauw Lany, perwakilan keluarga sekaligus pengelola rumah bersejarah tersebut, ada satu bagian dari narasi Rengasdengklok yang perlu diluruskan.
Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 selama ini kerap dikenal sebagai "penculikan" Soekarno dan Mohammad Hatta oleh golongan muda. Kedua tokoh itu dibawa dari Jakarta ke Rengasdengklok sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan.
Namun, menurut Lany, istilah "diculik" kurang tepat jika terus diwariskan kepada generasi muda. Setiap menerima kunjungan pelajar yang tengah mempelajari peristiwa tersebut, ia berusaha memberikan pemahaman dari sudut pandang yang diwariskan keluarganya.
"Saya bilang ke anak-anak, istilah diculik itu sebenarnya kurang tepat kalau sekarang. Lebih tepatnya 'diamankan' oleh golongan muda (PETA) supaya mempercepat kemerdekaan," tutur Lany saat Suara.com berkunjung ke Rumah Sejarah Rengasdengklok, Kamis (13/8/2026).
Menurut Lany, para pemuda yang membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok merupakan bagian dari PETA. Mereka merupakan pribumi yang saat itu berada dalam barisan Pembela Tanah Air, bukan tentara asing.
"Karena PETA itu bangsa kita sendiri, bukan musuh," tegasnya.
Dipilih karena Jauh dari Jangkauan Jepang
Lany menjelaskan, Rengasdengklok dipilih karena kondisi wilayahnya pada masa itu relatif sepi dan jauh dari pusat kekuasaan Jepang. Kawasan tersebut masih dipenuhi pepohonan lebat, sementara akses jalannya pun belum seperti sekarang.
Rumah milik Djiauw Kie Siong kemudian menjadi tempat untuk menempatkan Soekarno dan Hatta karena dinilai cukup aman dari pengawasan tentara Jepang.
Baca Juga: Rengasdengklok: Peristiwa Penting Menuju Kemerdekaan Indonesia
"Aman, jauh dari jangkauan Jepang. Masih hutan. Ke sini jalannya masih tanah, masih sepi, penduduk jarang," kenang Lany.
Rumah tersebut juga berada di pinggir Sungai Citarum. Kondisi geografis itu dianggap memberikan keuntungan apabila sewaktu-waktu rombongan harus meninggalkan lokasi dengan cepat.
Menariknya, menurut cerita yang diwariskan keluarga, kedatangan rombongan Soekarno-Hatta ke rumah tersebut juga bukan melalui aksi pendudukan paksa.
Djiauw Kie Siong disebut memberikan izin setelah rumahnya didatangi rombongan yang membutuhkan tempat untuk berlindung.
"Iya, dikasih, silakan kalau mau pakai," ujar Lany, menirukan ucapan sang kakek kala itu.
Demi menjaga keamanan dan kerahasiaan rombongan, keluarga Djiauw Kie Siong kemudian mengosongkan rumah dan mengungsi sementara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Purbaya Mau Tambah Anggaran Bea Cukai Rp 1 Miliar Lebih, Dianggap Kinerjanya Makin Baik
-
Upacara HUT RI ke-81 di Kulon Progo Berlangsung Tanpa Tenda Pejabat, Seluruh Peserta Berdiri Sejajar
-
Mimpi Punya Kendaraan Baru Kandas? Kenali Penyebab Pengajuan Kredit Mobil Ditolak Leasing
-
Plafon Berjatuhan, Gedung Berguncang! Turis Belanda Ungkap Momen Mengerikan Saat Gempa NTT
-
5 Body Wash dengan Scrub Halus untuk Perawatan Kulit Bersih Menyeluruh
-
Dahi Diperban Tetap Setia Menemani, Ayu Ting Ting Puji Effort Kevin Gusnadi Rayakan 17 Agustus
-
Beli Mobil Pakai Promo Spesial HUT RI dari BRI, Dapatkan Bunga Super Ringan!
-
Raja Arab Saudi Doakan Korban Meninggal Dunia Gempa NTT: Semoga Allah SWT Memberikan Ampunan
-
Refleksi Muhammadiyah di HUT ke-81 RI, Kekuatan Politik dan Ekonomi Harus Berkhidmat untuk Rakyat
-
HUT ke-81 RI, Bendera Raksasa Berkibar di Tebing Lembah Harau Sumbar