-
Pengepungan militer memicu krisis layanan diagnosis dan pengobatan kanker payudara bagi wanita Gaza.
-
Kerusakan alat mamografi dan kelangkaan obat menaikkan kasus kanker stadium lanjut sebesar 40 persen.
-
Penundaan izin berobat ke luar Gaza menyebabkan kematian pasien akibat memburuknya kondisi kesehatan.
Suara.com - Blokade total wilayah Jalur Gaza melumpuhkan sistem kesehatan dan memicu krisis mematikan bagi penderita kanker payudara. Ketiadaan pasokan obat-obatan serta kerusakan perangkat medis utama memaksa para wanita bertaruh nyawa dalam antrean pemeriksaan.
Kondisi perang mengubah pola prioritas hidup warga sipil sehingga pemeriksaan dini kanker payudara kerap terabaikan. Beban harian mengurus keluarga di tengah gempuran konflik membuat banyak pasien terlambat menyambangi fasilitas medis.
Beban ganda perempuan Gaza antara bertahan hidup dan melawan penyakit memperparah keterlambatan penanganan medis di tingkat awal. Keterbatasan akses pendeteksian dini mengubah kanker stadium awal menjadi kondisi darurat yang mengancam jiwa.
Esad Darwish, 42 tahun, memegang erat berkas medisnya saat mengantre di Rumah Sakit Medis Yafa untuk bertemu dokter.
Ia melirik ke pintu dokter ketika koridor semakin dipenuhi lebih banyak pasien dan pendamping mereka, menunggu dengan sabar hingga namanya dipanggil.
Pengalaman Esad dengan kanker payudara dimulai pada awal Juli ketika ia menyadari tanda-tanda penyakit tersebut. Gangguan masif pada layanan kesehatan yang disebabkan oleh pembantaian berkelanjutan oleh Israel di Gaza, serta tuntutan rumah tangganya di Deir el-Balah, membuat Esad menunda menemui dokter.
“Saya merasa ada sesuatu yang tidak normal, tetapi mesin mamografi tidak tersedia,” katanya kepada Al Jazeera.
“Setiap hari saya berkata pada diri sendiri bahwa saya akan pergi besok, tetapi tanggung jawab saya di rumah, mulai dari memasak dan mencuci hingga merawat keluarga, terus menyita waktu saya.”
Mengapa Alat Mamografi Di Gaza Sering Rusak?
Baca Juga: Sidang Tahunan MPR: Dukungan Terhadap Palestina Adalah Mandat Konstitusi, Bukan Soal Agama
Sejak didiagnosis mengidap kanker payudara, Esad mengisi hari-harinya dengan janji temu medis, pemeriksaan, dan penantian panjang untuk mendapatkan pengobatan dalam sistem layanan kesehatan yang runtuh akibat tekanan perang Israel di Gaza.
Ia memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban dan menghadapi penantian panjang yang menyiksa untuk mendapatkan hasil dari setiap pemeriksaan.
Sejak pengepungan di Gaza diperketat setelah perang dimulai pada Oktober 2023, terjadi kelangkaan obat-obatan, peralatan medis, dan layanan diagnosis spesialis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada sekitar 10.000 kasus kanker di Gaza, dengan lebih dari 2.000 kasus baru didiagnosis setiap tahunnya.
Kanker payudara tetap menjadi salah satu jenis kanker paling umum di kalangan wanita. Hasil akhir dari penyakit ini sangat bergantung pada diagnosis dini dan akses tepat waktu ke perawatan yang tepat, tetapi hal-hal tersebut sulit ditemukan di zona perang.
Mesin mamografi di Rumah Sakit Medis Yafa di Deir el-Balah sering kali “tidak berfungsi”, dan suku cadangnya sulit ditemukan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Purnawirawan TNI Turun Gunung, Tambah Rp100 Juta untuk Sayembara Ijazah SMA Wapres Gibran
-
Lawan Vietnam di Final Piala AFF 2026, Pelatih Thailand Singgung Timnas Indonesia
-
Bukan Hanya Batik, Ini 5 Wastra Tradisional Indonesia Punya Makna Filosofis
-
Sering Bingung Bedakan Cas AC dan DC Fast Charging pada Mobil Listrik? Begini Penjelasan Mudahnya
-
Memburu Nakhoda Kampus Hijau: Panitia Pilrek Unila Janjikan Netral
-
Feng Shui Kamar Tidur di Atas Dapur, Benarkah Bisa Bikin Sial?
-
Indonesia Bantah Kongkalikong dengan China untuk Perdagangan ke AS
-
Pidato Prabowo Tak Beri Kepastian, 20 Ribu PPPK Paruh Waktu Siap Geruduk Istana
-
Pelita Kecil di Kolong Langit
-
Dua Bulan Lagi Bebas! Acil Napi Lapas Warungkiara Malah Kabur Gara-gara Ditegur Main HP