-
Singapura terancam kabut asap jika kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan semakin memburuk.
-
NEA memantau titik panas dan menyiapkan imbauan harian jika indeks PSI memburuk.
-
Curah hujan Singapura pada akhir Agustus 2026 diprediksi berada di bawah rata-rata normal.
Suara.com - Singapura berpotensi diterjang kabut asap lintas negara jika titik kebakaran hutan dan lahan di Sumatera serta Kalimantan terus membesar. Angin kencang yang bertiup ke arah utara berisiko membawa kepulan asap pembakaran tersebut langsung menyeberangi selat menuju wilayah perkotaan.
Pemerintah Singapura kini menaikkan status pemantauan kualitas udara di seluruh wilayahnya guna mengantisipasi penurunan derajat kesehatan warga secara mendadak. Langkah sigap ini diambil mengingat pola cuaca kering diperkirakan masih akan mendominasi kawasan Asia Tenggara dalam beberapa waktu ke depan.
Kondisi monsun barat daya yang sedang berlangsung memperbesar peluang masuknya polusi udara dari Indonesia ke wilayah tetangga. Perubahan arah angin harian menjadi faktor krusial yang menentukan seberapa parah paparan asap akan melanda kawasan pemukiman.
Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) Singapura mengonfirmasi keberadaan titik panas yang memicu kepulan asap pekat di wilayah selatan dan tengah Sumatra serta beberapa area Kalimantan.
“Kondisi kering diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang. Di tengah angin yang bertiup dari arah tenggara atau barat daya, Singapura mungkin akan mengalami kondisi berkabut asap jika kebakaran semakin hebat,” ujar NEA dalam imbauan resminya, sebagaimana dikutip dari Malay Mail.
Ancaman ini membuat otoritas terkait langsung menyiagakan sistem peringatan dini bagi seluruh lapisan masyarakat. Otoritas setempat terus memantau pergerakan angin dan tingkat konsentrasi partikel polutan di udara secara riil setiap jam.
Bagaimana Langkah Imbauan dan Pemantauan Udara Singapura?
Lembaga lingkungan tersebut berjanji untuk terus memantau perkembangan situasi lapangan secara ketat demi keselamatan publik.
"Badan tersebut menyatakan akan terus memantau situasi secara ketat dan memberikan informasi terkini mengenai kabut asap setiap hari jika Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam memasuki kategori tidak sehat," demikian rilis pihak NEA.
Baca Juga: Anak 15 Tahun Ancam Bom ke Sekolah SMP Singapura, Semua Orang Panik Hingga Dievakuasi
Meskipun cuaca cenderung kering, hujan deras berdurasi singkat yang disertai petir diprediksi masih akan turun di beberapa titik wilayah pulau tersebut. Fenomena hujan lokal ini diperkirakan terjadi pada waktu menjelang siang hingga sore hari di beberapa kawasan terbatas.
Namun, curah hujan lokal tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk menghapus risiko datangnya kabut asap pekat dari luar wilayah. Curah hujan yang minim di kawasan sumber kebakaran tetap menjadi pemicu utama meluasnya sebaran asap.
Pihak otoritas meteorologi memperkirakan pasokan air hujan pada paruh kedua bulan ini berada di bawah batas normal rata-rata.
“Total curah hujan untuk dua minggu kedua bulan Agustus 2026 diperkirakan berada di bawah rata-rata di sebagian besar wilayah pulau tersebut,” tambah laporan resmi NEA.
Kondisi tersebut memperpanjang masa krisis kemarau yang memicu kerentanan lahan gambut dan hutan di wilayah regional. Fenomena alam ini berulang hampir setiap tahun ketika musim kemarau panjang melanda kawasan Asia Tenggara.
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan, telah lama menjadi pemicu utama krisis udara regional. Siklus musim kering yang ekstrem memicu meluasnya titik panas yang sulit dipadamkan akibat kondisi tanah gambut yang mudah terbakar.
Angin Monsun Barat Daya yang bertiup setiap pertengahan tahun secara alami membawa asap hasil pembakaran tersebut menyeberangi Selat Malaka. Akibatnya, negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia sering kali menanggung dampak penurunan kualitas udara yang signifikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Singapura Keluarkan Peringatan Warganya Jadi Korban Asap Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera
-
4 Pilihan HP Redmi Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera 108 MP hingga Baterai 7.000 mAh
-
Tolak Narasi Pigai, KNPB: Papua Punya Hak Merdeka Sesuai Prinsip Menentukan Nasib Sendiri!
-
Bupati PALI Asgianto Diperiksa KPK, Terungkap Daerahnya Gagal Raih WTP Selama 13 Tahun
-
Praperadilan Febrie Adriansyah, Kuasa Hukum Minta Eks Jampidsus Segera Dibebaskan
-
ESDM Uji Coba CNG untuk UMKM, Siapkan Puluhan Ribu Tabung
-
Rumah Sakit di Pekanbaru Dilarang Bedakan Pelayanan Pasien BPJS dan non-BPJS
-
3 Rekomendasi Moisturizer untuk Bekas Jerawat PIH sesuai Review, Noda Hitam Lambat Laun Pudar
-
Hentikan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026, Pelatih Singapura Kena Karma
-
Review Film Don't Say Good Luck: Kisah Remaja, Harapan, dan Teater Musikal