News / Internasional
Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:22 WIB
Gambar yang diambil pada tanggal 30 Mei 2024 dan dirilis dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) resmi Korea Utara melalui KNS pada tanggal 31 Mei 2024 menunjukkan uji coba salvo artileri roket super besar 600mm, di lokasi yang belum dikonfirmasi di Korea Utara. [KCNA VIA KNS/AFP]
Baca 10 detik
  • Korea Utara meluncurkan lebih dari 10 rudal balistik jarak pendek sejauh 300 kilometer.

  • Peluncuran proyektil terjadi menjelang berakhirnya latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan.

  • Korea Selatan mengutuk keras peluncuran tersebut karena dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Suara.com - Kepanikan keamanan kembali melanda Semenanjung Korea setelah Korea Utara meluncurkan lebih dari 10 rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur. Aksi demonstrasi kekuatan militer ini berlangsung tepat ketika latihan gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan memasuki hari-hari terakhirnya.

Langkah provokatif Pyongyang tersebut langsung memicu pengerahan status siaga penuh dari jajaran militer Seoul. Pemerintah Korea Selatan segera menggelar pertemuan darurat lintas kementerian untuk meninjau implikasi pertahanan pascapeluncuran masif tersebut.

"Peluncuran rudal balistik adalah tindakan serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB," tegas kantor kepresidenan Korea Selatan, dikutip dari CNA, Kamis (20/8/2026).

Korea Utara kembali meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah laut di lepas pantai timurnya, Minggu (19/4/2026) waktu setempat. [Istimewa]

Data Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengonfirmasi proyektil-proyektil tersebut terbang sejauh 300 kilometer sebelum jatuh ke perairan luar Zona Ekonomi Eksklusif Jepang.

Aksi militer ini menjadi sinyal nyata bahwa ancaman politik dari lingkaran inti rezim Kim Jong Un bukan sekadar gertakan kosong di atas kertas.

Adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menegaskan bahwa kebijakan bermusuhan Washington terhadap rezimnya tidak pernah memudar.

"Kebijakan bermusuhan" AS terhadap Korea Utara tidak berubah, sebab latihan tersebut masih terus berlangsung, ujar Kim Yo Jong.

Analis politik menilai peluncuran ini bertujuan menegaskan bahwa Pyongyang memegang kendali penuh atas kedaulatan keamanan wilayahnya sendiri.

Guru Besar University of North Korean Studies di Seoul, Yang Moo-jin, menyoroti aspek strategis di balik langkah terukur militer Pyongyang.

Baca Juga: Kronologi Prabowo Ngaku Siap Jadi Mediator Korsel Hingga Ditolak oleh Korea Utara

"Ini adalah pesan bahwa masalah yang berkaitan dengan keamanan Korea Utara adalah keputusan Korea Utara sendiri," kata Yang.

Di saat bersamaan, diplomasi regional turut memanas seiring kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi ke Seoul.

Wang Yi mendesak Washington untuk menghentikan sikap permusuhan demi menurunkan tensi militer yang terus meningkat di kawasan tersebut.

Konteks peristiwa ini berakar dari keputusan Presiden Donald Trump yang memangkas durasi latihan militer gabungan demi membuka kembali pintu diplomasi.

Namun, upaya perundangan diplomasi tersebut tetap disambut dingin oleh Pyongyang melalui pengujian dan pengembangan sistem rudal balistik terbarunya.

Load More