KemenPPPA Soroti Pentingnya Inklusi Keuangan bagi Perempuan Pelaku Usaha

Senin, 24 Agustus 2026 | 21:44 WIB
Acara Inclusion Talk “Berdaya dan Sejahtera, Perempuan Bisa”, Jumat (21/8/2026). (dok. ist)
  • KemenPPPA, Bank Indonesia, dan Women's World Banking meluncurkan kajian inklusi keuangan responsif gender pada 21 Agustus 2026.
  • Kajian di empat wilayah menunjukkan norma gender dan beban domestik membatasi ruang partisipasi ekonomi perempuan.
  • Bank Indonesia menyempurnakan pedoman program inklusi untuk memperkuat akses ekonomi dan pengambilan keputusan bagi perempuan.

Hasil kajian menunjukkan norma gender masih memengaruhi ruang dan waktu perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok maupun mengembangkan usaha.

Selain itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dinilai berperan penting dalam menentukan keberhasilan pendampingan dan manfaat program bagi perempuan.

Kajian juga menemukan bahwa pola pembentukan kelompok, model usaha, dan tata kelola turut membuka peluang ekonomi bagi perempuan.

Kelompok usaha dengan kepemimpinan yang mendorong representasi perempuan secara lebih setara, pencatatan usaha yang transparan, serta keterhubungan dengan lembaga keuangan formal dinilai dapat membantu perempuan mengembangkan potensi ekonominya.

Senior Policy Strategist, Southeast Asia, Women’s World Banking, Desi Vicianna, mengatakan inklusi keuangan bagi perempuan tidak cukup hanya dengan memastikan mereka memiliki akses terhadap layanan keuangan.

“Yang lebih penting adalah bagaimana akses tersebut diterjemahkan menjadi kontrol atas sumber daya dan manfaat ekonomi yang nyata bagi mereka,” ujar Desi.

Perkuat Pedoman Kelompok Usaha Subsisten

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan hasil kajian tersebut menjadi dasar untuk memperkuat Program Ekonomi dan Keuangan Inklusif kepada Kelompok Subsisten yang telah dijalankan BI sejak 2021.

Program tersebut dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit mengakses layanan keuangan formal melalui pendekatan kelompok yang membangun kebersamaan, kepercayaan, dan kemandirian.

Menurut Filianingsih, program tersebut telah direplikasi di seluruh Kantor Perwakilan BI Dalam Negeri dengan mayoritas anggota merupakan perempuan.

Sebagai tindak lanjut, BI dan Women’s World Banking menyempurnakan pedoman Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Inklusif Berbasis Kelompok Subsisten dengan memperkuat perspektif responsif gender.

Pedoman tersebut diharapkan menjadi acuan bagi 46 Kantor Perwakilan Dalam Negeri BI dalam merancang program yang lebih sesuai dengan kebutuhan perempuan dan laki-laki di berbagai daerah.

Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas usaha, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com