Linda Kitchen menuntut Singapore Airlines di High Court Inggris atas cidera patah tulang belakang dan kematian suaminya.
Suara.com - Linda Kitchen, janda berusia 74 tahun yang selamat dari insiden turbulensi maut penerbangan Singapore Airlines SQ321, resmi mendaftarkan gugatan hukum terhadap maskapai tersebut di High Court Inggris.
Langkah hukum ini diambil untuk memperoleh ganti rugi finansial guna membiayai perawatan medis spesialis akibat cidera patah tulang belakang yang dideritanya.
Dikutip dari CNA, gugatan ini menandai babak baru penuntutan akuntabilitas maskapai atas tragedi Mei 2024 yang menewaskan suaminya, Geoff Kitchen (73 tahun), di tengah penerbangan rute London menuju Singapura.
Pihak keluarga melayangkan dua gugatan resmi sekaligus, yakni tuntutan atas nama pribadi Linda Kitchen serta tuntutan mewakili aset dan hak peninggalan almarhum suaminya.
Langkah Linda Kitchen juga diikuti oleh sederet penumpang lain seperti Bradley Richards, Jack Jenkins, Hannah Fullerton, Andrew Dawood, Bryan Matthews, serta pasangan Pauline dan Michael Rainey yang turut mengajukan gugatan serupa.
Mengapa Korban SQ321 Memilih Jalur Hukum Sekarang?
Pihak Singapore Airlines memilih untuk tidak memberikan tanggapan resmi terkait dokumen gugatan hukum yang kini telah masuk ke meja hijau.
Maskapai menyampaikan bahwa mereka tidak dapat mengomentari perkara yang sedang berjalan di dalam proses peradilan.
Tragedi ini bermula saat pasangan suami istri tersebut hendak memulai liburan enam minggu menuju Singapura, Indonesia, dan Australia.
Pesawat Boeing 777-300ER yang mereka tumpangi mendadak dihantam turbulensi hebat saat melintas di atas wilayah udara Myanmar.
Guncangan dahsyat yang terjadi membuat Linda menyangka pesawat yang mereka tumpangi akan jatuh ke tanah.
Tubuh suaminya terlempar dan menindih Linda hingga tubuh sang istri terhimpit kuat di sandaran tangan kursi penumpang.
Beberapa penumpang lain segera menolong untuk memindahkan tubuh Geoff sebelum seorang dokter di pesawat bergegas memberikan tindakan resusitasi jantung paru (CPR).
Pesawat kemudian mendarat darurat di Bangkok agar para korban terluka bisa segera mendapatkan pertolongan medis darurat.
Linda menjalani perawatan intensif selama 10 hari di rumah sakit Bangkok sebelum akhirnya diterbangkan kembali ke Bristol, Inggris.