Janda Korban Turbulensi Singapore Airlines SQ321 Gugat Maskapai ke Pengadilan Inggris

Senin, 31 Agustus 2026 | 13:20 WIB
Pesawat Airbus Singapore Airlines. (Shutterstock)

Linda Kitchen menuntut Singapore Airlines di High Court Inggris atas cidera patah tulang belakang dan kematian suaminya.

Sesampainya di Inggris, ia kembali harus dirawat di rumah sakit selama seminggu dan membutuhkan pendampingan khusus setelah diperbolehkan pulang.

Bagaimana Kondisi Emosional Korban yang Ditinggalkan?

Linda baru mengetahui kabar duka tentang kematian suaminya dua hari setelah insiden maut tersebut terjadi.

"Tidak ada yang mempersiapkan saya untuk mendengar dia telah meninggal. Itu benar-benar menghancurkan," ujarnya.

Penderitaan fisik dan mental yang dialami mendorong Linda untuk mencari kejelasan utuh mengenai detail kejadian yang merenggut nyawa suaminya.

"Saya merasa berutang padanya untuk setidaknya mendapatkan beberapa jawaban," tegas Linda saat menyampaikan alasannya menempuh jalur hukum.

Anthe Korelidou, pengacara spesialis penerbangan yang mewakili Linda, menegaskan bahwa pihak keluarga masih mempertanyakan apakah insiden tersebut seharusnya dapat dicegah.

Saat ini keluarga korban masih menunggu hasil investigasi resmi dari koroner terkait penyebab pasti kematian Geoff Kitchen.

Penerbangan SQ321 itu sendiri mengangkut total 211 penumpang dan 18 awak kabin saat turbulensi mendadak terjadi pada 21 Mei 2024.

Selain merenggut satu nyawa, insiden tersebut menyebabkan 56 orang mengalami luka berat dan 23 orang luka ringan.

Hasil laporan akhir dari Singapore's Transport Safety Investigation Bureau (TSIB) pada Mei 2026 mengungkapkan bahwa Geoff Kitchen meninggal akibat gagal jantung dan edema paru.

TSIB menjelaskan bahwa turbulensi terjadi akibat cuaca konvektif dari pertumbuhan awan cepat yang memicu arus udara naik dan turun secara ekstrem.

Mengapa Radar Pesawat Gagal Mendeteksi Bahaya?

Deteksi navigasi kokpit tidak menunjukkan adanya indikasi cuaca buruk beberapa menit sebelum guncangan terjadi, dan pengamatan visual pilot menunjukkan jalur penerbangan bersih.

Tim penyelidik menyimpulkan radar cuaca pesawat kemungkinan gagal menangkap indikasi cuaca buruk sebelum turbulensi menghantam.

Namun produsen radar menyatakan tidak menemukan bukti adanya kerusakan atau kegagalan sistem dalam mendeteksi dan menampilkan kondisi cuaca selama penerbangan.

Sinyal sabuk pengaman sebenarnya telah dinyalakan saat guncangan awal terasa, namun turbulensi parah menghantam hanya 17 detik setelahnya.

Singkatnya jeda waktu membuat awak kabin tidak memiliki kesempatan untuk memberikan pengumuman peringatan kepada para penumpang.

Perubahan gaya gravitasi yang drastis dan mendadak membuat para penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman terlempar ke udara sebelum menghantam lantai kabin.

Pasca-kejadian, Singapore Airlines telah menawarkan kompensasi sebesar US$10.000 bagi penumpang yang mengalami luka ringan.

Bagi korban dengan luka berat, maskapai membuka ruang diskusi kompensasi individual serta memberikan uang muka US$25.000 untuk kebutuhan mendesak.

Singapore Airlines menyampaikan permohonan maaf dan memperketat prosedur keselamatan serta pemantauan turbulensi pada perangkat tablet awak kabin.

Maskapai juga memperbarui panduan radar cuaca, memberikan pelatihan penyegaran bagi pilot, dan meningkatkan imbauan penggunaan sabuk pengaman sepanjang penerbangan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com