AS Tolak Bantu Arab Saudi Hadapi Gempuran Rudal Houthi

Senin, 21 September 2026 | 08:47 WIB
Serangan udara gabungan militer Arab Saudi dan Amerika Serikat menewaskan 8 anggota Popular Mobilisation Forces (PMF) serta melukai 4 orang lainnya di Irak. (Medsos/Aljazeera)
BACA 10 DETIK
  • AS menolak serangan ofensif ke Houthi dan hanya membagikan data intelijen kepada Arab Saudi.

  • Arab Saudi berupaya mencapai kesepakatan damai dengan kelompok Houthi melalui bantuan pihak perantara.

  • Houthi menuntut pertukaran tahanan, pencabutan blokade bandara, dan kompensasi kerusakan akibat konflik 12 tahun.

Suara.com - Amerika Serikat dipastikan tidak akan melibatkan intervensi militer secara langsung demi membentengi Riyadh dari gempuran milisi Yaman. Amerika Serikat secara tegas menolak ambil bagian dalam aksi menggempur kubu Ansar Allah atau Houthi di Yaman.

Langkah ini menegaskan batas keterlibatan Paman Sam yang enggan terseret lebih dalam pada pertikaian bersenjata di kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump menolak keras kemungkinan keterlibatan langsung pasukannya di medan pertempuran Yaman.

Sebagai gantinya, Gedung Putih memilih memperkuat pertahanan sekutunya melalui jalur pasokan data teknis tanpa penerjunan armada tempur. Pemerintah Amerika Serikat menilai militer Arab Saudi sudah mengantongi amunisi dan kapabilitas yang cukup untuk menghadapi perlawanan Houthi.

Laporan gambar dan rekaman asap yang membumbung dari fasilitas-fasilitas di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh setelah serangan rudal balistik [Ist]

Dukungan Washington kini difokuskan pada peningkatan kualitas informasi tempur dan pemetaan target secara presisi. Langkah taktis ini diambil agar Riyadh mampu menangani dinamika keamanan secara mandiri.

"Tidak ada serangan ofensif," kata seorang pejabat AS kepada CNN.

Di sisi lain, diplomas rahasia mulai digulirkan untuk meredam tensi pertempuran yang kian membara di kawasan. Arab Saudi dilaporkan sedang mengupayakan dialog dan negosiasi bersama kelompok Houthi melalui fasilitasi pihak ketiga.

Upaya kompromi tersebut mengemuka setelah aksi saling serang antar kedua belah pihak kembali memuncak sejak pertengahan Juni. Sebelum pertempuran kembali meluas, kubu Yaman telah menyodorkan sejumlah tuntutan krusial sebagai syarat perdamaian.

Persyaratan tersebut mencakup pembebasan seluruh tahanan perang hingga pembukaan kembali akses penerbangan di wilayah utara Yaman. Selain itu, Riyadh dituntut menyetor dana ganti rugi atas kehancuran fasilitas publik dan penderitaan warga sipil.

Klaim ganti rugi ini dihitung berdasarkan rekam jejak kerusakan yang terjadi di wilayah kekuasaan Houthi selama 12 tahun konflik. Konfrontasi berkepanjangan ini terus memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah Yaman utara.

Eskalasi militer ini menjadi latar belakang rumitnya penyelesaian konflik yang melibatkan kekuatan regional dan global. Kehadiran pihak ketiga diharapkan mampu menjembatani jurang perbedaan antara kedua kubu yang bertikai.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com