- Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memimpin peringatan peristiwa Lapangan Ikada di Balai Kota pada Senin, 21 September 2026.
- Rano mengingatkan agar modernisasi dan pembangunan gedung tinggi di Jakarta tidak mengikis memori kolektif serta akar sejarah bangsa.
- Hasilnya, masyarakat diajak menjaga identitas Jakarta sebagai pusat sejarah perjuangan dan peleburan budaya Nusantara di tengah zaman.
Suara.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengingatkan agar derap modernisasi ibu kota tidak mengikis memori kolektif bangsa saat memimpin peringatan peristiwa Lapangan Ikada di Balai Kota, Senin (21/9/2026).
Rano menegaskan, pembangunan fisik gedung pencakar langit harus senantiasa berpijak pada luhurnya akar sejarah perjuangan rakyat.
“Saya juga ingin mengingatkan satu hal: menjadi kota global bukan berarti kehilangan ingatan lokal dan nasional. Kita boleh membangun gedung semakin tinggi, tetapi akar sejarah kita harus semakin dalam,“ ujarnya.
“Kita boleh menatap dunia semakin jauh, tetapi jangan pernah kehilangan kemampuan untuk menoleh ke belakang, sebab kota yang kehilangan ingatan akan kehilangan jiwanya,“ lanjut orang nomor dua di Jakarta itu.
Rano menggarisbawahi, Jakarta bukan sekadar bentangan wilayah administratif biasa, melainkan panggung utama kelahiran Republik Indonesia.
“Jakarta memang tidak pernah sekadar menjadi sebuah kota. Dari Jakarta, gema Sumpah Pemuda dikumandangkan. Di kota ini pula, Proklamasi Kemerdekaan dibacakan. Dan di Lapangan Ikada, rakyat datang berbondong-bondong menegaskan bahwa Republik yang baru diproklamasikan itu adalah milik seluruh rakyat Indonesia,“ tuturnya lagi.
Jejak perjuangan para pendahulu bangsa terpatri abadi di setiap sudut permukiman warga ibu kota.
“Sejarah Jakarta adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Indonesia. Di gang-gangnya, di kampung-kampungnya, di gedung-gedung tuanya, di jalan-jalannya tersimpan jejak perjalanan bangsa ini,“ imbuh Rano.
Figur yang lekat dengan tokoh Bang Doel itu juga mengagungkan karakter Jakarta yang sejak dulu menjadi wahana peleburan aneka etnis dan budaya Nusantara.
Peringatan ini diserukan agar segenap elemen masyarakat senantiasa menjaga muruah dan identitas Jakarta di tengah pusaran zaman.
“Jakarta sejak dahulu adalah melting pot Indonesia, tempat perbedaan tidak saling meniadakan, tetapi justru saling memperkaya,“ tandas Rano.