-
Ledakan diduga ranjau di DMZ Korea menyebabkan tiga prajurit militer mengalami luka-luka.
-
Sumber ranjau pemicu ledakan masih diselidiki, apakah milik Korea Utara atau Korea Selatan.
-
Wilayah DMZ menampung sekitar 800.000 ranjau aktif tersisa dari perang hingga penanaman baru.
Suara.com - Insiden ledakan diduga ranjau darat di dalam kawasan Zona Demiliterisasi (DMZ) mengakibatkan 3 orang terluka, termasuk prajurit Angkatan Darat Korea Selatan.
Ketiga korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Bersenjata untuk mendapatkan perawatan medis intensif pasca-kejadian.
Peristiwa ini menjadi penegas bahaya laten di kawasan perbatasan yang dipenuhi ratusan ribu material peledak aktif hasil akumulasi konflik bertahun-tahun.
Seorang pejabat militer mengonfirmasi peristiwa fatal yang menimpa anggotanya saat bertugas di lapangan.
"Seorang prajurit mengalami luka parah saat operasi di DMZ yang melibatkan Divisi Infanteri ke-25," ujar pejabat militer tersebut, dikutip dari Anadolu.
Penyelidikan mendalam masih berjalan untuk memastikannya asal-usul ranjau yang memicu ledakan tersebut.
Pihak berwenang belum bisa memverifikasi apakah ranjau tersebut ditanam oleh pasukan Korea Utara atau milik militer Korea Selatan sendiri.
Estimasi data militer mencatat sekitar 800.000 ranjau terkubur di sekitar wilayah perbatasan kedua negara tersebut.
Sebagian besar peledak tersisa dari masa Perang Korea, meski aktivitas penanaman ranjau baru terus berlanjut dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah pengamanan ketat terus diterapkan guna mencegah munculnya insiden serupa pada masa mendatang.
Eskalasi penanaman ranjau baru di garis batas wilayah diketahui mengalami peningkatan drastis sepanjang kurun waktu 2024.
Aktivitas militer intensif berlangsung setelah Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menetapkan Korea Selatan sebagai musuh utama negaranya.
Tentara Pyongyang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menanam ranjau serta membangun barikade anti-tank di sepanjang garis perbatasan.
Upaya tersebut dilakukan secara masif dalam rangka menyegel perbatasan kedua negara secara permanen.
Kondisi ini semakin mempertinggi risiko keselamatan bagi personel militer yang berpatroli di area netral tersebut.
Wilayah DMZ sendiri terbentuk sebagai zona penyangga sejak semenanjung itu terpisah pasca-Perang Korea tahun 1950 hingga 1953.
Konflik masa lalu yang diakhiri dengan gencatan senjata tersebut menjadikan DMZ sebagai salah satu tempat paling padat ranjau di dunia.