- Partai Pelajar-Mahasiswa memenangi pemilu Serbia dengan merebut 140 dari 250 kursi parlemen pada Oktober 2026.
- Kemenangan telak tersebut berhasil menumbangkan rezim Aleksandar Vucic dan Partai Progresif Serbia yang berkuasa selama 14 tahun.
- Hasil pemilu ini memicu perubahan peta politik domestik, merusak jejaring etnis minoritas, serta mendapat sambutan Uni Eropa.
Suara.com - 'Partai Pelajar-Mahasiswa' atau Student List berhasil memenangkan pemilu di Serbia, dan menumbangkan rezim Aleksandar Vucic yang sudah berkuasa sejak lebih dari satu dekade silam.
Selama hampir satu setengah dekade, panggung politik Serbia tampak seperti sebuah naskah yang telah selesai ditulis sebelum lakon dimulai.
Dari koridor kementerian hingga layar kaca, dari dewan kota terpencil hingga kursi mayoritas parlemen, kekuasaan berada mutlak di genggaman Aleksandar Vucic dan Partai Progresif Serbia (SNS).
Oposisi tradisional berulang kali mencoba meretakkan dinding tebal kekuasaan itu, namun selalu berakhir terpelanting di pinggir gelanggang.
Kini, dikutip dari Euronews, Senin (26/10/2026), naskah panjang itu dicabik habis. Serbia baru saja melahirkan hasil pemilihan umum yang hampir dipastikan tercatat sebagai salah satu titik balik paling monumental dalam sejarah modernnya.
Ini bukan sekadar pergantian tampuk kabinet biasa, melainkan runtuhnya tatanan politik yang telah mendefinisikan negara Balkan tersebut sejak 2012.
Kekuatan yang berhasil menumbangkan imperium politik Vucic bukan koalisi partai kawakan atau tokoh politik lama, melainkan aliansi yang berakar dari jalanan: Student List.
Dalam penghitungan suara parlemen yang berkapasitas 250 kursi, 'partai pelajar-mahasiswa' yang juga beranggotakan para akademisi itu mencetak kemenangan telak dengan merebut 140 kursi, mengamankan mayoritas mutlak untuk membentuk pemerintahan secara mandiri.
Sebaliknya, SNS yang selama hampir 14 tahun mendominasi tanpa tanding hanya mampu mengumpulkan 104 kursi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Serbia, partai penguasa itu dipaksa angkat koper dan duduk di barisan oposisi.
Gempa Elektoral: Lenyapnya Oposisi Tradisional di Ambang Batas Tiga Persen
Paradoks terbesar dari gempa politik di Beograd adalah tersingkirnya partai-partai mapan. Berangkat dari gelombang demonstrasi kampus yang berlangsung selama berbulan-bulan, Student List berhasil mentransformasi bara pemberontakan sosial menjadi legitimasi elektoral yang sah di bilik suara.
Gerakan kaum muda ini melakukan hal yang gagal dicapai partai oposisi konvensional selama satu dekade lebih: mematahkan monopoli politik Aleksandar Vui secara telak.
Hasil pemilu ini beroperasi layaknya referendum terbuka terhadap 14 tahun rezim SNS. Sebagian besar pemilih tidak lagi menimbang kalkulasi teknokratis kandidat tertentu, melainkan menjatuhkan suara untuk menghukum model tata kelola yang kadung identik dengan politik personalistik, pemusatan kuasa, hegemoni institusional, cengkeraman media, dan polarisasi sosial yang akut.
Kaum muda berhasil mengonsolidasikan beragam lapis keresahan publik—mulai dari tuntutan penegakan hukum, akuntabilitas kelembagaan, hingga desakan perubahan rezim secara fundamental.