BACA 10 DETIK
- Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta menyatakan budaya tutup mulut sekolah demi reputasi memperburuk kasus perundungan pada Selasa (27/10/2026).
- Andreas mendorong pembentukan sistem pelaporan yang aman dan independen agar korban terlindungi tanpa intervensi pihak institusi pendidikan.
- Keluarga dan masyarakat harus memperkuat pengawasan bersama serta menanamkan pendidikan keberagaman sejak dini untuk mencegah perundungan berulang.
Maka dari itu, ia menilai pembentukan tim pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah tidak boleh berakhir sebagai formalitas administratif.
Pengawasan bersama, mekanisme pengaduan yang terbuka, serta keberanian sekolah mengakui kasus menjadi bagian penting untuk memutus pola perundungan berulang.
Ia turut mendorong keluarga membangun komunikasi yang terbuka dengan anak dalam keseharian.
"Memang membutuhkan satu sistem holistik itu sehingga tantangan mewujudkan masyarakat inklusif, perlu disadarkan sejak anak-anak. Sehingga mereka bisa juga mempraktikkan hidup di dalam perbedaan yang mesti saling menghormati, saling respek, dan tidak saling mem-bully," pungkasnya.