Situasi Geopolitik Memanas, Menpar Sebut Masyarakat Butuh Ketenangan Lewat Wisata Kebugaran

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 18:28 WIB
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (30/10/2026). [Suara.com/Lilis]
BACA 10 DETIK
  • Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan Jogjakarta Cultural Wellness Festival 2026 dibutuhkan untuk mengatasi ketegangan geopolitik global.
  • GKR Bendara menyampaikan bahwa Yogyakarta mengembangkan wisata kebugaran berbasis alam melalui program Forest Healing dan terapi suara gamelan.
  • Penyelenggara festival melarang praktisi menyampaikan klaim berlebihan dan hanya fokus pada manfaat relaksasi serta meditasi.

Suara.com - Situasi geopolitik global yang bergejolak dinilai meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap aktivitas yang dapat membantu menjaga kesehatan fisik dan mental. Salah satunya melalui wisata kebugaran atau wellness tourism yang mengintegrasikan perawatan diri, budaya, serta keseimbangan tubuh dan pikiran.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, kegiatan seperti Jogjakarta Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 dibutuhkan di tengah situasi global yang semakin kompetitif dan penuh ketegangan.

"Event seperti ini sangat dibutuhkan di tengah situasi sekarang yang sangat kompetitif dan geopolitik yang sedang bergejolak sehingga membuat suasana intens di mana-mana. Jadi kita membutuhkan ketenangan, kesehatan pikiran, tubuh dan jiwa untuk kembali menemukan harmoni," kata Widiyanti dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Menurut Widiyanti, festival tersebut juga akan mengangkat potensi wisata kebugaran Indonesia melalui tradisi jamu, rempah Nusantara, perawatan tradisional, serta praktik kebugaran berbasis kearifan lokal.

Sejalan dengan itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (BPPD DIY), Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, mengatakan bahwa sound healing atau terapi suara tengah menjadi salah satu tren wisata kebugaran yang diminati secara global.

Menurutnya, praktik tersebut memiliki beragam bentuk, mulai dari penggunaan singing bowl hingga instrumen gamelan. Yogyakarta juga memiliki komunitas yang mengembangkan aktivitas kebugaran berbasis alam melalui program Forest Healing yang digagas seorang dokter bernama Dr. Herin.

"Komunitas di Jogja punya itu adalah Dr. Herin. Jadi ini adalah seorang dokter yang beliau menciptakan program namanya Forest Healing. Dan itu tentu ter-backup dengan kajian akademisi karena beliau adalah seorang dokter," ujar GKR Bendara.

Koordinator Program JCWF, Fadli Fahmi Ali, menambahkan bahwa penggunaan gamelan dalam sound healing juga dikembangkan dengan memperhatikan penelitian mengenai frekuensi suara yang dapat membantu seseorang mencapai kondisi relaksasi.

"Kita kombinasikan juga kayak gamelan sound healing itu dengan metode yang memang mereka sudah meneliti tentang frekuensi yang itu bisa membuat kita dalam state alpha atau beta. Jadi kita buat gamelan diketukkan yang mana sih yang itu akan bisa membuat kita dalam state alpha," ujar Fadli.

Meski demikian, pihak penyelenggara membatasi klaim manfaat yang disampaikan para praktisi wellness dalam festival tersebut. Fadli mengatakan praktisi tidak diperbolehkan menyampaikan klaim berlebihan mengenai manfaat suatu metode kebugaran.

"Contohnya ketika mereka over claim ini akan membuat kamu menjadi kaya, itu gak boleh. Tapi kalau sesuatu yang sekadar mereka menyebutkan ini akan membantu untuk relax, membantu untuk bisa khusyuk meditasinya, itu yang malah justru kita encourage," katanya.

Selain memperkenalkan praktik kebugaran berbasis budaya dan alam, penyelenggaraan JCWF 2026 juga menjadi salah satu upaya untuk memperluas pengenalan potensi wellness tourism Yogyakarta kepada wisatawan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com