Karhutla Papua Selatan Mulai Menyusut, BNPB Catat 253 Hektare Lahan Masih Terbakar

Senin, 02 November 2026 | 10:38 WIB
Ilustrasi Kebakaran hutan. (Unsplash/@emren)
BACA 10 DETIK
  • BNPB mencatat kebakaran hutan di Papua Selatan menyisakan 253 hektare area belum padam pada 1 November 2026.
  • Pemerintah memperkuat penanganan karhutla melalui pemantauan udara, koordinasi lintas instansi, serta pengawasan aktivitas pembukaan lahan di Kabupaten Merauke.
  • BNPB bersama BMKG telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca menggunakan 13.000 kilogram natrium klorida untuk memicu hujan.

Suara.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan masih menyisakan 253 hektare area yang belum padam. Meski luas kebakaran tercatat menurun dalam beberapa hari terakhir, penanganan di lapangan masih perlu diperkuat.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan berdasarkan data per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, terdapat 379 titik panas dan 171 titik api di wilayah Papua Selatan.

"Berdasarkan data BNPB per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, Papua Selatan masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla," kata Berton dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).

Dia mengatakan, masih adanya 171 titik api dan sekitar 253 hektare area yang belum padam menunjukkan upaya pemadaman langsung masih dibutuhkan meskipun penanganan terus dilakukan.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (Pexels/Eclipse Chasers)

Jika dibandingkan dengan data 31 Oktober, jumlah titik panas di Papua Selatan mengalami penurunan dari 943 menjadi 379 titik. Sementara titik api turun dari 263 menjadi 171 titik.

Luas area terbakar yang tercatat juga menyusut dari 1.742 hektare menjadi 695 hektare. Adapun luas area yang belum padam berkurang dari 577 hektare menjadi 253 hektare.

"Perkembangan ini merupakan indikasi positif, tetapi tetap perlu diverifikasi melalui pemantauan dan pemeriksaan di lapangan. Angka luas terbakar merupakan hasil pemantauan geospasial dan dapat berubah mengikuti pembaruan data serta pemetaan," ujar Berton.

Sebelumnya, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal melakukan pemantauan udara pada 31 Oktober 2026. Dari pemantauan tersebut, kepulan asap dan sejumlah titik api masih terlihat di Kabupaten Merauke.

BNPB kemudian memperkuat penanganan melalui pemantauan berbasis satelit dan drone, verifikasi titik api, serta koordinasi dengan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, dan unsur terkait.

Berton mengatakan, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar juga menjadi perhatian untuk mencegah munculnya titik api baru.

Selain pemadaman langsung, BNPB bersama BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran.

Berdasarkan laporan hingga 31 Oktober, OMC di Papua Selatan telah melaksanakan 13 sorti penyemaian awan dengan total penggunaan 13.000 kilogram natrium klorida (NaCl).

Meski demikian, Berton menegaskan OMC hanya menjadi upaya pendukung dalam penanganan karhutla. Pemadaman langsung dan pemeriksaan untuk memastikan api benar-benar padam tetap harus dilakukan petugas di lapangan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com