-
Taufiq Muhammad, mantan sopir taksi asal Jakarta, tewas di Ukraina sebagai tentara bayaran Rusia.
-
Korban terjebak skema penipuan kerja dan langsung gugur pada pertempuran pertamanya di Donetsk.
-
Intelijen Ukraina menyebut Taufiq direkrut lewat resume online dan dijadikan infanteri sekali pakai.
Suara.com - Eks sopir taksi asal Jakarta bernama Taufiq Muhammad dilaporkan tewas di garis depan Donbas, Ukraina, usai tergiur janji pekerjaan fiktif dari Moskow. Pria kelahiran Sorong tersebut sebelumnya sempat berkarier di Amerika Serikat dan menguasai bahasa Inggris dengan sangat fasih, hingga dia jadi tentara bayaran Rusia.
Sebelum berangkat ke medan perang, Taufiq pernah mengelola perusahaan pertanian dan menetap di Kota Surabaya. Rekrutmen bermula ketika agen Rusia menemukan resume lamarannya lalu menjanjikan imbalan uang instan.
Badan Intelijen Pertahanan Ukraina menyebut Taufiq sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya tengah masuk dalam perangkap sindikat tentara bayaran. Korban menandatangani kontrak satu tahun di Korolyov pada April 2026 sebagai infanteri garis depan.
"Badan Intelijen Pertahanan Ukraina telah mengidentifikasi seorang tentara bayaran asing lainnya yang bertempur bersama pasukan pendudukan Rusia dan tewas di Ukraina - warga negara Indonesia bernama Taufiq Muhammad yang lahir pada 22 Mei 1978 di kota Sorong," tulis DIU.
Hanya berselang sepuluh hari di pusat latihan Voronezh, ia langsung diterjunkan ke zona pendudukan sementara di Donetsk. Nyawa Taufiq melayang seketika pada kontak tembak pertamanya di dekat kawasan Zelena Dolyna.
Pasukan Moskow saat itu sedang mencoba merangsek maju ke arah Novoselivka dan Drobysheve sebelum insiden maut tersebut terjadi. Intelijen Ukraina menegaskan bahwa WNI itu hanyalah korban kesekian dari modus penipuan tenaga tempur asing.
Skema perekrutan internasional Rusia kerap memanfaatkan situs lowongan kerja untuk menjaring warga sipil luar negeri. Iming-iming gaji besar menjadi daya tarik utama bagi para pencari kerja yang mendambakan kestabilan finansial cepat.
Banyak korban asing tidak mendapat informasi transparan mengenai risiko penugasan tempur berintensitas tinggi di garis depan. Mereka umumnya langsung ditempatkan sebagai infanteri sekali pakai tanpa pelatihan tempur yang memadai.
Pemerintah berbagai negara terus mengingatkan warganya agar mewaspadai tawaran kerja luar negeri berupah tinggi yang minim kejelasan legalitas. Kasus Taufiq menjadi pengingat nyata akan bahaya tersembunyi di balik iklan lowongan kerja internasional yang mencurigakan.