Pulihkan Ekosistem Pascakarhutla, UGM Dorong Restorasi Berbasis Sains

Senin, 02 November 2026 | 11:32 WIB
Ilustrasi Asap Kebakaran Hutan yang Menguap di Udara (dok.Pexels)

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyisakan vegetasi yang hangus. Kebakaran juga merusak struktur tanah, ekosistem gambut, hingga mikroorganisme yang berperan menjaga keseimbangan lingkungan.

Kerusakan tersebut membuat pemulihan kawasan terdampak membutuhkan pendekatan berbasis sains. Penanaman pohon kembali perlu disertai pemulihan fungsi tanah, tata air gambut, dan siklus karbon.

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Eko Agus Suyono, mengatakan karhutla merupakan tantangan ekologis yang penanganannya harus didasarkan pada data dan pemahaman terhadap karakteristik ekosistem.

Kebakaran juga dapat menghilangkan informasi ekologis yang tersimpan dalam struktur dan fungsi suatu ekosistem.

Dalam keterangan tertulisnya, Eko menekankan pentingnya kebijakan pencegahan kebakaran yang berkelanjutan.

"Agar kebakaran serupa tidak terulang, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan dan regulasi mitigasi kebakaran hutan dan lahan secara permanen, bukan hanya respons saat darurat," jelas Eko.

Pemulihan Ekosistem Tak Cukup dengan Menanam Pohon

Salah satu dampak karhutla yang kerap luput dari perhatian adalah kerusakan mikrobioma tanah. Suhu ekstrem saat kebakaran dapat memusnahkan komunitas mikroorganisme, termasuk bakteri yang berperan dalam fiksasi nitrogen dan jamur mikoriza.

Padahal, mikroorganisme tersebut membantu menjaga kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan vegetasi. Kerusakannya dapat memperlambat pemulihan ekosistem setelah kebakaran.

Dampak lain terjadi pada lahan gambut. Kebakaran di kawasan ini dapat melepaskan cadangan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer sehingga meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memperburuk perubahan iklim.

Karena itu, restorasi perlu memperhatikan keterkaitan antara tanah, vegetasi, mikroorganisme, dan siklus karbon. Pemulihan satu komponen saja berisiko tidak mengembalikan fungsi ekosistem secara utuh.

Eko menilai penanaman kembali vegetasi lokal menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan. Pemilihan spesies perlu disesuaikan dengan karakteristik ekosistem setempat agar mendukung pemulihan habitat dan fungsi ekologis kawasan terdampak.

Pembasahan Gambut dan Pemulihan Mikroorganisme

Selain revegetasi, pembasahan kembali gambut atau rewetting menjadi bagian penting dalam restorasi. Langkah ini bertujuan memulihkan kondisi hidrologis gambut sekaligus mengurangi risiko kebakaran berulang.

Pemulihan mikrobioma tanah juga perlu dilakukan melalui penelitian dan pengembangan formulasi mikroorganisme yang sesuai dengan kondisi lahan terdampak. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu mengembalikan kesuburan tanah pascakebakaran.

Pembasahan gambut, revegetasi dengan spesies lokal, dan pemulihan mikrobioma tanah saling berkaitan dalam mengembalikan fungsi ekosistem sebagai penyerap dan penyimpan karbon.

"Melalui pembasahan kembali gambut, revegetasi dengan spesies lokal, serta pemulihan mikrobioma tanah berperan dalam pemulihan siklus karbon," beber Eko.

Fakultas Biologi UGM juga menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam pemulihan ekosistem terdampak karhutla.

Dukungan yang ditawarkan mencakup identifikasi dan rehabilitasi satwa terdampak, penyediaan bibit lokal unggul, serta riset mikroorganisme untuk memulihkan tanah. UGM juga membuka peluang pendampingan ilmiah dalam penyusunan kebijakan mitigasi karhutla dan pengukuran stok karbon pada program restorasi.

Pemulihan karhutla dengan demikian perlu melampaui penanganan dampak langsung kebakaran. Restorasi berbasis sains dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan sekaligus mendukung mitigasi perubahan iklim.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com