- Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyampaikan pentingnya penataan ruang kota di Universitas Pembangunan Jaya, Bintaro Jaya, pada Senin (2/11/2026).
- Ia menegaskan bahwa kebijakan pembangunan fisik Jakarta harus berjalan secara berkesinambungan dan tidak boleh terputus akibat pergantian kepemimpinan daerah.
- Literatur penataan ruang diharapkan mampu menjadi panduan strategis bagi para pengambil kebijakan untuk menjaga kesinambungan pembangunan wilayah perkotaan secara terukur.
Suara.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Dr. H. Fauzi Bowo, menegaskan bahwa arah penataan ruang kota tidak boleh terputus atau tersekat hanya karena pergantian kepemimpinan daerah setiap lima tahun sekali.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri diseminasi awal buku Perjalanan Penataan Ruang Ibukota Jakarta 1965-2012 di Theater 1, Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Bintaro Jaya, Senin (2/11/2026).
“Menata Jakarta adalah proses panjang yang mempertemukan aspek teknokratis, politik, dan pemenuhan kebutuhan warga,” ujar Fauzi Bowo.
Menurut figur yang akrab disapa Foke tersebut, kebijakan penataan ruang perkotaan kerap menghadapi kendala karena terbentur masa jabatan gubernur.
“Planning tidak mungkin kita sekat-sekat kan, atau tersekat-sekat dengan masa jabatan tersebut. Harus berkesinambungan,” tegasnya.
Foke mengingatkan bahwa para kepala daerah yang telah purnatugas memang meninggalkan memori dan biografi selama menjabat. Namun, rencana pembangunan fisik kota menuntut kesinambungan jangka panjang yang melampaui batas masa jabatan seorang pemimpin.
Ia juga berpesan kepada generasi penerus maupun calon pemimpin masa depan agar tidak gegabah membuat kebijakan baru seolah-olah kota ini tidak memiliki akar sejarah.
“Sekadar mengingatkan bahwa Jakarta itu bukan ruang hampa,” kata Foke.
Literatur mengenai penataan ruang perkotaan diharapkan dapat menjadi panduan strategis bagi para pengambil kebijakan dalam menjaga kesinambungan pembangunan wilayah megapolitan secara terarah dan terukur.