Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi RI Masih Terjaga, Pede Kuat Sampai Akhir Tahun

Selasa, 03 November 2026 | 14:00 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers usai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz]
BACA 10 DETIK
  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan fundamental ekonomi Indonesia kuat usai rapat di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (2/11/2026).
  • Pemerintah mencatat tiga indikator positif meliputi kenaikan PMI Manufaktur ke level 54 serta surplus neraca perdagangan September 2026 sebesar 3,36 miliar Dolar AS.
  • Tingkat inflasi tahun kalendar mencapai 2,4 persen yang dinilai masih berada dalam target yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Suara.com - Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim kalau fundamental ekonomi Indonesia masih kuat saat ini.

Hal itu disampaikan Menko Perekonomian usai melakukan Rapat Terbatas (Ratas) dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada Senin (2/11/2026). Airlangga bahkan optimistis kalau kondisi ekonomi Indonesia diharapkan masih terjaga hingga akhir tahun 2026 mendatang.

"Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," katanya dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Selasa (3/11/2026).

Menko Airlangga menjelaskan tiga indikator makroekonomi mulai dari inflasi Oktober 2026, neraca perdagangan per September 2026 yang mencatatkan surplus, hingga Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur per Oktober 2026.

Untuk PMI Manufaktur, ia menyebut kalau saat ini sektor manufaktur Indonesia ekspansi ke level 54. Angka ini meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat 52,4.

"Ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur dan level ekspansinya ini terkuat sejak Maret yang lalu. Maret 2024, jadi ini level ekspansi yang tinggi," beber dia.

Kemudian Airlangga mengatakan neraca perdagangan Indonesia surplus 3,36 miliar Dolar AS per September 2026. Capaian ini berasal dari surplus non migas sebesar 5,67 miliar Dolar AS, serta defisit di sektor migas 2,31 miliar Dolar AS.

Adapun selama periode Januari hingga September 2026, neraca dagang Indonesia surplus di 10,61 miliar Dolar AS. Ini dipicu oleh surplus non migas sebesar 34,21 miliar Dolar AS, serta defisit migas mencapai 23,6 miliar Dolar AS.

"Nah sedangkan dari ekspor kita lihat secara total naik 5,58 persen year on year. Jadi tahun ini Januari-September 221,23 miliar (Dolar AS). kemudian dari segi nonmigas ekspornya 212,27 miliar (Dolar AS). Sedangkan impor juga mengalami kenaikan 19,67 persen yaitu sebesar 210,63 miliar (Dolar AS), terutama kenaikan bahan baku dan penolong, juga kenaikan dari capital goods atau barang-barang modal," papar dia.

Jika dibandingkan selama periode Januari-September 2025, Airlangga menyebut kalau saat itu angkanya sebesar 176 miliar Dolar AS. Dengan demikian nilai impor Indonesia naik hampir 20 persen.

"Sedangkan nonmigas itu 178,06 miliar Dolar AS naik 16,92, tentu dipicu oleh kenaikan harga," lanjutnya.

Sedangkan dari segi inflasi, Airlangga mengatakan inflasi Oktober secara tahunan (year on year/yoy) mencapai 3,23 persen, sementara untuk bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,22 persen.

Adapun secara tahun kalendar (year to date/ytd), inflasi mencapai 2,4 persen. Airlangga membeberkan kalau inflasi ini masih dalam target Pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Jadi kalau year to date 2,4 persen juga ini masih dalam range 2,5 persen plus minus 1 persen," lanjutnya.

Lebih lanjut Menko Perekonomian menjelaskan kalau inflasi ini disebabkan oleh kategori volatile food seperti makanan, minuman, cabai rawit, hingga ikan segar. Faktor lainnya yakni inflasi di bidang transportasi seperti kenaikan harga tiket pesawat.

"Jadi dari segi inflasi sendiri, core inflationnya hanya 2,56 persen, administered prices yang memang tinggi 3,24 persen dan volatile food 5,81 persen. Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," jelas Airlangga.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com