- Mabes Polri memutasi 264 perwira tinggi dan menengah berdasarkan Surat Telegram Kapolri tanggal 2 November 2026.
- Mutasi jabatan strategis ini dilakukan di tengah skandal penyadapan petinggi negara dan dugaan pengerahan massa.
- Divisi Propam Polri memeriksa sejumlah jenderal terkait kasus tersebut guna menjaga stabilitas keamanan internal kepolisian.
Operasi Senyap Divisi Propam dan Isu Jenderal Bintang Empat Di tengah upaya perbaikan stabilitas, kabar mengejutkan kembali berembus dari balik dinding Mabes Polri.
Operasi senyap berskala tingkat tinggi dikabarkan sempat berlangsung, melibatkan pengerahan satuan khusus untuk menjemput dan mengawal sejumlah petinggi kepolisian menuju ruang pemeriksaan Divisi Propam Polri.
Pemeriksaan maraton tersebut disebut-sebut menyeret nama jenderal bintang tiga hingga figur berpangkat jenderal penuh (bintang empat) yang kini tengah mengemban posisi di instansi sipil pemerintahan.
"Iya, benar, ada pengamanan. Satu bintang empat inisial L, dan beberapa jenderal bintang tiga. Tapi yang bintang empat sudah dilepas,"
Fokus utama dari pemeriksaan maraton tersebut disinyalir berkaitan erat dengan upaya membedah persoalan sensitif demi menjaga stabilitas keamanan internal korps penegak hukum.
"Ada beberapa hal yang ingin diverifikasi. Soal keamanan tentunya,"
Guncangan beruntun di barisan jenderal ini terjadi tepat satu bulan setelah estafet kepemimpinan Trunojoyo diserahkan. Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto, yang baru sebulan dilantik di Istana Negara, kini memikul tugas berat pasca-transisi kepemimpinan dari Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo yang telah beralih tugas menduduki pos sipil strategis sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Sejak hari pertama memegang tongkat komando, Jenderal Suyudi memang telah memancangkan komitmennya untuk menggelar konsolidasi dan penataan ulang internal secara menyeluruh guna memastikan soliditas arah program Korps Bhayangkara.