Trump Disebut Siapkan Serangan Nuklir ke Iran Karena Permintaan PM Israel

Rabu, 04 November 2026 | 10:53 WIB
Presiden AS, Donald Trump. [IG/realdonaldtrump]
BACA 10 DETIK
  • Tucker Carlson mengunggah klaim viral di X bahwa pemerintah AS berencana menyerang nuklir Iran akhir pekan ini.
  • Tudingan tersebut menyebutkan serangan dipicu tekanan Perdana Menteri Israel Netanyahu demi mempertahankan kekuasaan politik domestiknya.
  • Unggahan kontroversial ini menuai banyak kritik tajam dari berbagai pihak yang melabelinya sebagai berita bohong.

Suara.com - Mantan pembawa acara televisi Fox News yang dikenal kerap menyuarakan pandangan konservatifnya, Tucker Carlson, kembali memicu gelombang kontroversi berskala global melalui sebuah unggahan viral di platform media sosial X. Dalam sebuah pernyataan politik yang menyita perhatian lebih dari 56 juta penonton sejak diunggah ke publik pada Minggu malam, jurnalis tersebut melontarkan klaim yang sangat mengejutkan terkait stabilitas geopolitik.

Carlson menuding bahwa pemerintahan Amerika Serikat di bawah komando Donald Trump saat ini tengah mempertimbangkan secara serius rencana peluncuran serangan nuklir ke wilayah Republik Islam Iran dalam hitungan hari ke depan.

Tudingan tersebut menyebutkan bahwa opsi penggunaan senjata pemusnah massal ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan merupakan hasil dari lobi dan tekanan politik tingkat tinggi.

“Di bawah tekanan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pemerintahan Trump mungkin akan melancarkan serangan nuklir terhadap Iran dalam hitungan hari,” tulis Carlson dalam unggahannya yang berformat panjang tersebut.

Ia merinci lebih jauh bahwa sasaran utama dari operasi militer ekstrem yang diwacanakan itu adalah Pickax Mountain, sebuah lokasi yang terletak di kawasan pusat negara Iran.

Menurut penjabaran Carlson, lokasi tersebut ditargetkan berdasarkan informasi intelijen Israel yang mengklaim bahwa pemerintah Iran telah kembali memulai program pengayaan nuklirnya secara rahasia di fasilitas tersebut.

Dalam narasinya, Carlson menyoroti bahwa wacana agresi militer ini sangat erat kaitannya dengan dinamika dan krisis politik internal yang sedang melanda Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai berada dalam posisi yang teramat terdesak pasca-kekalahan partainya dalam memperebutkan mayoritas kursi di parlemen pada rangkaian pemilihan umum yang digelar pekan lalu.

Netanyahu, yang secara terbuka menolak hasil dan mengklaim bahwa pemilu tersebut telah dicuri dari tangannya, disebut-sebut sangat membutuhkan keberlanjutan eskalasi perang di kawasan demi mempertahankan cengkeraman kekuasaan dan pengaruh politiknya di dalam negeri.

“Netanyahu harus tetap dekat dengan Trump,” tambah Carlson saat memaparkan analisisnya mengenai manuver politik kedua pemimpin tersebut. “Dia membutuhkan perang ini. Untuk itu, dia telah memberikan tekanan maksimal kepada sekutu-sekutu terdekatnya di dalam pemerintahan, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan komandan CENTCOM Brad Cooper. Keduanya menentang penyelesaian perang melalui negosiasi—perang yang justru telah mereka kelola dengan sangat buruk—dan keduanya justru mendesak untuk memulai kembali operasi tempur berskala besar.”

Lebih lanjut, Carlson menuding bahwa sejumlah pejabat tinggi di ring satu Washington secara aktif mengikuti arah kebijakan yang didikte oleh Netanyahu. Nama-nama strategis di kabinet, seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Direktur Central Intelligence Agency (CIA) John Ratcliffe, beserta jajaran kepemimpinan elite dari Partai Demokrat, diklaim turut terseret dalam agenda lobi tersebut.

Langkah agresif yang didorong oleh poros Washington-Tel Aviv ini dinilai sangat kontras dengan pandangan negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, yang justru merasa sangat terancam dengan prospek meluasnya konflik bersenjata berskala regional.

Ia juga secara terbuka membeberkan informasi spesifik terkait manuver diplomasi tertutup yang dilakukan oleh pemimpin Israel tersebut di kancah regional. “On September 27th, Netanyahu flew secretly to Abu Dhabi to enlist the UAE in his lobbying effort for a final attack on Iran. The Emiratis refused. After eight months of conflict, Gulf economies are teetering.”

Berdasarkan pantauan dari sejumlah pihak yang diklaim sebagai pengamat dekat di lingkaran dalam pemerintahan, Carlson menyebut bahwa Presiden Trump dihadapkan pada tenggat waktu pengambilan keputusan yang sangat krusial terkait penggunaan senjata nuklir pada akhir pekan mendatang.

“Itu akan terjadi pada tanggal 7 November, enam hari dari sekarang,” tegas Carlson mematok linimasa krisis tersebut. Meski begitu, ia juga mencatat adanya dinamika yang terjadi di kubu internal Gedung Putih yang membuat sang presiden masih menahan diri. "Yang patut disyukuri, dia ragu-ragu. Saat ini, Trump mendengarkan wakil presidennya, JD Vance, dan utusan serta temannya Steve Witkoff, keduanya berpendapat bahwa kesepakatan dengan Iran dapat dicapai."

Sebagai penutup dari narasinya, Carlson mendesak para pemimpin dunia untuk berani bersuara dan menentang skenario serangan ini sebelum terlambat. Namun, alih-alih mendapatkan dukungan luas dari publik, unggahan panjang tersebut justru langsung dibanjiri gelombang kritik tajam dari berbagai tokoh dan warganet.

Banyak pihak yang dengan tegas melabeli tulisan Carlson sebagai penyebaran berita bohong (hoaks) tingkat tinggi, dan menilainya semata-mata sebagai sebuah karya fiksi spekulatif yang sengaja didesain untuk menebar histeria massal.

Salah satu figur publik yang secara terbuka mencibir klaim nuklir tersebut adalah mantan kandidat wali kota Los Angeles, Spencer Pratt. Ia menanggapi narasi yang dibangun oleh Carlson dengan pandangan yang sangat skeptis, bahkan menyarankan agar masyarakat mulai membuat sebuah papan skor khusus untuk mencatat setiap kepanikan hari kiamat yang terus-menerus gagal terbukti.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com