- Mantan Kapolri Listyo Sigit beserta dua jenderal ditahan di Mabes Polri Jakarta Selatan pada 2025–2026.
- Mereka terbukti melakukan penyadapan ilegal terhadap gawai Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat tanpa izin pengadilan.
- Praktik spionase tersebut memanfaatkan peladen Lawful Interception Management System milik Polri secara tanpa hak.
Jokowi saat itu menanggapi pembobolan privasinya dengan gaya khas: merendah dan menganggap dirinya bukan tokoh yang patut diintai.
"Yang disadap dari saya ini apa sih. Kalau di rumah, saya ngomong dengan istri soal enteng-enteng saja. Soal makanan. Itu-itu saja," kata Jokowi.
Dari Target Spionase Menjadi Pemegang Kunci Sandi
Satu dekade berselang, lanskap politik berubah total. Jokowi tak lagi berstatus gubernur yang ruang makannya disusupi alat intai asing.
Memasuki tahun-tahun pemungkas kekuasaannya sebagai Presiden ke-7 RI, ia telah menjelma menjadi konsumen tertinggi dari seluruh produk spionase yang diproduksi oleh aparatur keamanan republik.
Transformasi itu ia deklarasikan secara terbuka tanpa tedeng aling-aling. Di hadapan ribuan relawan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Seknas Jokowi di Bogor pada September 2023, Jokowi memamerkan kemampuannya melihat segala dinamika dan manuver politik di Tanah Air dari balik meja kerjanya.
"Saya tahu dalamnya partai itu seperti apa. Partai-partai seperti yang saya tahu, mereka mau ke mana juga saya mengerti. Saya dapat informasi komplet dari intelijen. Dari BIN. Intelijen Polri, ada. Intelijen TNI, BAIS, dapat. Saya pegang semua itu," kata Jokowi saat membuka Rapat Kerja Nasional relawan Seknas Jokowi di Bogor, September 2023.
Lingkaran Trunojoyo dan Senjata yang Berbalik Arah
Di sinilah letak episentrum paradoks tersebut. Salah satu penopang utama pasokan data dan keamanan Jokowi selama masa pemerintahannya adalah Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Relasi keduanya telah terjalin kokoh sejak Jokowi menjabat Wali Kota Solo dan Listyo duduk sebagai Kapolresta Surakarta pada 2011.
Karier Listyo kemudian melesat tanpa jeda di lingkaran satu Jokowi: mengawal sebagai Ajudan Presiden pada 2014, menjabat Kepala Bareskrim pada 2019, hingga dilantik sebagai Kapolri pada awal 2021.
Di bawah kendali Listyo, Korps Bhayangkara memperkuat infrastruktur intersepsi dan intelijen siber, termasuk pengoperasian peladen LIMS yang terintegrasi.
Sistem yang mulanya dirancang untuk mendukung perang melawan kejahatan transnasional dan menjaga stabilitas politik rezim itu bekerja senyap di bawah komando hierarkis.
Namun, ketika tongkat kepresidenan beralih ke tangan Prabowo Subianto pada akhir 2024, instrumen intelijen yang telah terbiasa melacak pergerakan lawan dan kawan politik itu tidak berhenti bekerja.
Alih-alih tunduk pada batas-batas protokoler kepala negara yang baru, mesin penyadap di Trunojoyo justru diarahkan membidik ponsel Prabowo sendiri sepanjang kurun 2025 hingga 2026.