Kisah Inspiratif Pemuda Tangsi Jaya: Tinggalkan Kota Demi Jadi Petani Kopi di Desa

Kamis, 05 November 2026 | 11:36 WIB
Aweng petani kopi berusia 28 tahun asal Kampung Tangsi Jaya, Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. [Suara.com/Alif]
BACA 10 DETIK
  • Pemuda bernama Aweng meninggalkan profesinya sebagai koki di Bandung pada tahun 2020 untuk pulang kampung menjadi petani kopi di Kabupaten Bandung Barat.
  • Kehadiran Koperasi Rimba Lestari membantu Aweng memasarkan hasil panen kopinya dengan harga menguntungkan sehingga kehidupannya menjadi jauh lebih baik.
  • Remaja berusia 17 tahun bernama Zainul Afwa juga mengelola kebun kopi warisan orang tuanya di Tangsi Jaya demi mendapatkan penghasilan tanpa merantau ke kota.

Suara.com - Seorang pemuda bernama Aweng pernah menghabiskan hampir tujuh tahun hidupnya di dapur sebuah rumah makan di Kota Bandung, Jawa Barat. Namun, pekerjaan sebagai koki tak kunjung memberinya penghasilan yang cukup.

Alih-alih bertahan di kota, pria berusia 28 tahun itu justru memilih pulang kampung dan mengubah jalan hidupnya menjadi petani kopi.

Keputusan besar itu diambil Aweng pada 2020. Ia meninggalkan profesi yang selama ini ditekuni untuk memulai kehidupan baru di Kampung Tangsi Jaya, Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat.

Baginya, tak ada alasan memaksakan diri mencari penghidupan di kota jika kampung halaman sendiri menyimpan peluang yang menjanjikan.

"Buat apa susah-susah ke kota kalau di kampung juga ada," jelas Aweng kepada Suara.com pada Rabu, (4/11/2026).

Pilihan Aweng bukan tanpa perhitungan. Kampung Tangsi Jaya dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil kopi.

Peluang itu semakin terbuka dengan kehadiran Koperasi Rimba Lestari yang membantu petani memasarkan hasil panen dengan harga yang menguntungkan.

Buah kopi arabika dihargai Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Sementara robusta dibeli dengan kisaran Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram.

Melihat peluang tersebut, Aweng mulai belajar menanam dan membudidayakan kopi.

Awalnya, ia memanfaatkan lahan milik orang tuanya. Berbekal pengalaman dan ketekunan, kini ia berhasil memiliki kebun sendiri untuk dikelola.

Hasilnya, kehidupan Aweng terasa jauh lebih baik dibandingkan ketika masih bekerja sebagai koki di Bandung.

Bukan hanya soal penghasilan, ia juga merasa lebih leluasa mengatur waktu dan pekerjaannya sendiri.

"Kalau di kota itu, kan, ibaratnya jadi kayak ikut orang. Terus pengetahuan saya sebagai koki hanya terbatas pada bidang memasak saja jadinya," kata Aweng seraya tertawa.

Rutinitasnya kini tak lagi berkutat di dapur restoran.

Pagi atau sore hari, Aweng menyempatkan diri memantau kebun kopi setelah menyelesaikan pekerjaannya di Koperasi Rimba Lestari sebagai penyaring biji kopi yang telah matang.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com