Cuma Bayar Rp25 Ribu Sebulan, Dusun Tangsi Jaya Buktikan 'Kedaulatan Energi' Lewat Arus Sungai

Rabu, 04 November 2026 | 17:16 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) di Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat. (Suara.com/Alif Bintang)
BACA 10 DETIK
  • Warga Dusun Tangsi Jaya membangun PLTMh mandiri dari Sungai Ciputri sejak tahun 1990-an demi mencukupi kebutuhan listrik.
  • Pemerintah memberikan hibah PLTMh berkekuatan 18 kW pada 2007 dan 32 kW pada 2024 untuk mendukung warga.
  • Kini PLTMh mengaliri 95 rumah warga dan dikelola secara gotong royong oleh para pemuda setempat.

Suara.com - Konsep kehidupan bermasyarakat yang berdampingan dengan alam adalah dambaan siapa pun. Lingkungan tanpa kerusakan, nihil konflik sosial, dan justru berbuah berkah ekonomi.

Warga Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, berhasil mewujudkan dambaan tersebut melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) mandiri mereka.

Bersama Trend Asia, Suara.com berkesempatan menilik lebih dekat bagaimana praktik ekonomi berkelanjutan ini menyokong roda kehidupan warga dalam kunjungan pada 2 hingga 5 November 2026.

Mendengar tutur cerita mereka, warga Tangsi Jaya seakan menegaskan kedaulatannya: menjaga alam tetap lestari sekaligus menjadikannya sumber penghidupan utama.

Cikal Bakal PLTMh

Cikal bakal PLTMh itu bermula pada dekade 90-an, ketika seorang warga Kecamatan Gunung Halu berinisiatif membuat sebuah pembangkit listrik menggunakan kincir air berbahan dasar kayu dengan modal aliran air Sungai Ciputri dan pengetahuan seadanya.

"Orang sini (Dusun Tangsi Jaya) belajar sama orang itu. Enggak ada sih (pelatihan dari pemerintah)," ungkap Penanggung Jawab PLTMh Gunung Halu, Toto Sutanto pada Senin, (2/11/2026).

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) di Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat. (Suara.com/Alif Bintang)

Terobosan itu seakan menjadi jawaban atas situasi di tengah minimnya pasokan listrik dari PLN yang tak mampu mencukupi kebutuhan sebagian rumah di dusun.

Namun, Toto bercerita saat itu kincir air tersebut masih belum menutupi pasokan listrik yang dibutuhkan walaupun merupakan sebuah langkah terobosan.

"Tahun 90 masyarakat di sini pakai kincir tradisional yang pakai kayu. Cuma kapasitasnya kecil. Paling banyaknya cuma 200 sampai 250 watt," tuturnya.

Atas kreatifitasnya, warga seakan ketiban pulung ketika mendapatkan hibah sebuah PLTMh berkekuatan 18 kW pada 2007 guna memasok kebutuhan listrik warga yang saat itu menghuni enam puluh rumah.

Alhasil, mereka lebih memilih untuk menggunakan PLTMh pribadi ketimbang berlangganan pasokan PLN yang harganya dipatok tak sesuai dengan kantong warga.

"2007 PLN juga sudah masuk. Cuma waktu itu siapa yang mau masang PLN itu harus DP dulu. Bayangin tahun 2007 itu ekonomi masyarakat belum seperti ini. Waktu itu (harga) Rp1,2 juta," ungkap Toto.

Meski demikian, ia menilai kualitas pasokan listrik PLN masih kalah ketimbang pasokan PLTMh milik warga. Dia berkaca pada pengalaman 10 rumah yang saat itu memutuskan untuk berlangganan perusahaan listrik pelat merah tersebut.

Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) milik Warga Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat. (Suara.com/Alif Bintang)

Bahkan, pada 2024 warga Desa Tangsi Jaya makin menunjukan taringnya saat Dinas ESDM memberikan kepercayaan melalui pemberian hibah sebuah PLTMh berskala 32 kW.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com