Usai Bertemu Prabowo, Dirut KAI Batalkan Impor KRL Bekas: Rakyat Harus Dapat Kereta Baru

Kamis, 05 November 2026 | 18:29 WIB
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin. (Suara.com/Novian)
BACA 10 DETIK
  • Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyatakan pengadaan 23 trainset baru setelah bertemu Presiden Prabowo pada 5 November 2026.
  • KAI membatalkan rencana impor kereta bekas dan mengandalkan industri dalam negeri melalui PT INKA serta kerja sama produsen asing.
  • Kebijakan baru ini mengubah keputusan Komisi VI DPR RI yang sebelumnya telah menyetujui impor kereta bekas pada 23 September 2026.

Bobby juga mengungkapkan sebagian besar armada KRL yang beroperasi saat ini telah memasuki usia kritis. Selain kondisi fisik yang menurun, ketersediaan suku cadang juga menjadi persoalan.

"Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Sudah berumur 45. 45 ini kita sudah tidak bisa lagi. Satu, sparepart sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue. Sudah mulai fatigue, maka 2029 dari 92 train set ini 2045 itu kita harus ganti," ujarnya.

Ia menambahkan, KAI harus mengganti 87 trainset hingga 2031.

"Sehingga sampai dengan tahun 2031 kita itu harus mengganti 87 trainset dengan yang lain," sambungnya.

Di sisi lain, kapasitas produksi PT INKA dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan armada dalam waktu singkat. Keterbatasan kapasitas manufaktur dan keterlambatan penyerahan kereta membuat KAI menghadapi kekurangan armada untuk periode 2026–2027.

Karena itu, dalam rapat bersama DPR pada September lalu, Bobby mengusulkan impor kereta bekas sebagai solusi sementara untuk menutup kebutuhan tersebut.

"Jadi bagaimana kita menutup 2027 2026-2027 dulu. Jadi salah satunya yang kami akan usulkan itu adalah kita tambal dulu, Pak, dengan melakukan impor, ya, itu kereta-kereta yang tidak baru," katanya.

Bobby saat itu menyebut kereta bekas yang akan diimpor harus memiliki riwayat kondisi yang baik dan telah melalui proses peremajaan atau refurbishment.

"Ya, kereta yang tidak baru, yang memang kita lihat historisnya, secara historis ini bagus, mungkin, kemudian yang kedua adalah sudah melakukan refurbishment Pak. Iya, sudah melakukan refurbishment, kayak pesawat lah gitu ya. Kayak pesawat, telah kita melakukan refurbishment. Ini, ini cara cepat," ujarnya.

Selain mengusulkan impor untuk kebutuhan jangka pendek, KAI juga mendorong PT INKA meningkatkan kapasitas produksi melalui kemitraan strategis dengan perusahaan luar negeri.

"PT INKA mau tidak mau memang harus kita beyond dari (TRL) 15, kapasitas mereka sekarang ini. Memang harus ada partner, strategic partner dari luar gitu yang memang harus menambah kapasitasnya dia di Banyuwangi," kata Bobby.

Menanggapi usulan tersebut, Komisi VI DPR RI mendukung langkah KAI memenuhi kebutuhan armada melalui kombinasi peningkatan kemampuan industri lokal dan pengadaan kereta bukan baru.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade membacakan kesimpulan rapat yang mendorong KAI memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL Jabodetabek, dengan meningkatkan industri lokal serta melakukan impor rangkaian kereta bukan baru secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Komisi VI juga mendorong pengadaan sarana bukan baru sebagai solusi transisi, sembari memperkuat sinergi dengan PT INKA melalui peningkatan tingkat kesiapan teknologi (technology readiness level) dan kesiapan manufaktur (manufacturing readiness level) hingga level 9.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com