/
Senin, 24 April 2023 | 17:03 WIB
Bayar Utang Puasa atau Puasa Sunnah Syawal, Mana yang Lebih Dulu? Begini Penjelasan Buya Yahya (Youtube Al-Banjah TV)

NTB.Suara.com - Bulan suci Ramadhan telah berlalu. Di bulan Ramadhan seluruh umat muslim melaksanakan ibadah puasa selama 30 hari penuh.

Ada beberapa pengecualian golongan orang-orang yang tidak boleh melaksanakan ibadah puasa di antaranya, wanita hamil, wanita haid atau nifas, orang yang sedang dalam perjalanan atau safar, juga orang yang sedang menderita sakit.

Perlu diketahui setelah bulan Ramadhan terlalui, hutang puasa yang terlewat harus dibayar dengan berpuasa kembali atau membayar fidyah.

Selain itu, momen setelah hari Raya Idul Fitri bagi umat muslim ada ibadah sunnah Puasa Syawal yang pahalanya tidak kalah besar.

Akhirnya sebuah pertanyaan muncul, lebih baik mana, antara membayar hutang puasa atau melakukan puasa Sunnah Syawal terlebih dahulu?

Dikutip NTB-Suara.com dari Kanal Youtube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas.

Buya Yahya menjelaskan jika lebih baiknya itu membayar hutang terlebih dahulu.

Namun demikian, agar pahala dari puasa Sunnah Syawal nya pun tidak terlewat, bagi muslim atau musliman yang akan membayar hutang puasa, alangkah lebih baik dilakukan pada saat bulan Syawal.

"Jadi dahulukan bayar hutang, cuma Allah SWT kan Maha Kasih, Ibu bayar hutang pas kan di bulan Syawal," jelas Buya Yahya.

Baca Juga: Inilah Makanan dan Hidangan Idul Fitri dari Seluruh Dunia, Salah Satunya Ada Lapis Legit

"Maka Ibu juga dapat pahala Syawal, niatnya bayar hutang puasa saja kan enak," sambungnya.

"Jangan dibalik kalau puasa sunnah saja, hutangnya ga kebayar, kalau bayar hutang pahala sunnah nya dapat," tuturnya.

Buya Yahya juga menjelaskan untuk jangan melakukan satu puasa dengan dua niat berbeda, misal puasa di bulan syawal dengan niat puasa syawal dan membayar hutang.

Hal tersebut tidak boleh dilakukan karena ibadah puasa orang tersebut dinilai tidak sah.

"Tapi jangan didouble niatnya, kalau niatnya didouble disebutkan oleh para ulama kita itu nanti tidak sah," kata Buya Yahya.

Lebih lanjut, menurut Buya Yahya untuk menyebutkan niat puasa juga tidak harus menggunakan bahasa Arab, cukup dengan bahasa Indonesia yang kita pahami saja itu sudah cukup membuat Ibadah Puasa kita diterima. Insyaallah. (*/Haryo) 

Load More