NTB.suara.com - Toyota, salah satu produsen mobil terkemuka di dunia, telah mencetak sejarah panjang dalam industri otomotif. Nama-nama seperti Corolla, Camry, dan Crown mungkin sudah sangat akrab di telinga pecinta mobil. Namun, ada satu nama yang mungkin tidak sepopuler ketiga model tersebut, yaitu "Corona."
Mobil sedan yang menjadi ikon mewah pada masanya dan menyisakan warisan yang tak terlupakan. Toyota memperkenalkan Toyota Corona pada tahun 1957, dengan nama aslinya "Toyopet Corona." Nama "Corona" sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti "mahkota." Toyota menggunakan nomenklatur ini untuk beberapa model sedan mereka, termasuk Corolla, Camry, dan Crown. Corona adalah salah satu model pertama yang mengusung konsep sedan dalam dunia otomotif Toyota.
Generasi pertama Toyota Corona, yang dikenal sebagai Toyopet Corona, hadir pada Juli 1957. Saat itu, taksi menjadi bisnis yang sangat populer di Jepang, dan Toyota melihat peluang ini dengan memperkenalkan Toyopet Corona. Mobil ini dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan pasar taksi dengan ukuran kompak dan mesin 1.000 cc.
Generasi kedua Toyota Corona muncul pada tahun 1960. Mobil ini memiliki desain yang lebih ramping dan proporsional, serta perubahan signifikan dalam hal suspensi belakang yang lebih nyaman. Pada generasi ini, Toyota memperkenalkan varian baru bernama Corona 1500 dengan mesin 1.500 cc yang bertenaga.
Pada tahun 1964, Toyota Corona meluncurkan generasi ketiga, yang menandai langkah besar dalam hal kemewahan dan popularitasnya. Generasi ini menjadi produk terlaris dalam waktu singkat, bahkan di luar Jepang, seperti di Amerika Serikat. Toyota Corona generasi ketiga menampilkan desain yang lebih mewah dan mapan.
Sedangkan Toyota Corona pertama kali tiba di Indonesia pada tahun 1971, setahun setelah generasi keempat Corona hadir di dunia. Corona versi Indonesia dilengkapi dengan mesin 1.600 cc 4 silinder segaris dan transmisi manual 4-speed. Corona versi lokal ini menjadi kendaraan yang populer di kalangan pejabat pemerintah dan manajer perusahaan besar.
Generasi kedua Corona masuk ke Indonesia pada tahun 1974. Masih dengan model sedan 4 pintu, Corona generasi ini menawarkan kenyamanan berkendara tanpa mengorbankan efisiensi bahan bakar. Corona versi lokal tetap menggunakan mesin 1.600 cc dengan transmisi manual 4-speed.
Generasi ketiga Corona tiba di Indonesia pada tahun 1979. Corona kini memiliki dimensi bodi yang lebih besar, lebih banyak taburan krom, dan sistem suspensi yang lebih nyaman. Corona masih mengandalkan mesin 2.000 cc dan transmisi manual 5-speed.
Pada tahun 1981, Toyota memperkenalkan Corona Mark II di Indonesia sebagai salah satu generasi keenam Corona. Corona Mark II menggunakan mesin 2.000 cc dan dianggap sebagai alternatif yang lebih mewah daripada Corona biasa. Kualitasnya hampir mendekati Toyota Crown.
Baca Juga: Tatap Drawing Piala Dunia U-17 2023, Bima Sakti Tak Gentar Siapapun Lawan Timnas Indonesia
Setelah lebih dari dua dekade dengan penggerak roda belakang, Toyota Corona akhirnya beralih ke penggerak roda depan pada generasi keempatnya, yang tiba di Indonesia pada tahun 1984. Perubahan ini juga mengubah tampilan Corona secara signifikan.
Generasi kelima Corona di Indonesia, yang disebut Corona Twin Cam, menawarkan mesin twin cam dengan teknologi Dual Over Head Camshaft (DOHC) 16 katup yang disertai injeksi bahan bakar. Tersedia dua pilihan mesin, yaitu 1.600 cc dan 2.000 cc.
Generasi keenam Corona di Indonesia, yang dikenal dengan nama Corona Absolute, menjadi edisi terakhir Toyota Corona di tanah air. Mobil ini menawarkan dimensi yang lebih besar, ruang kabin yang luas, dan berbagai fitur kenyamanan.
Toyota Corona telah meninggalkan jejak yang kuat dalam sejarah otomotif Indonesia. Meskipun tidak lagi diproduksi dan digantikan oleh model lain, warisan dan kenangan akan Corona tetap hidup. Toyota Corona adalah salah satu mobil legendaris yang telah menyentuh hati banyak orang di masa lalu, dan ceritanya akan terus dikenang dalam dunia otomotif. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
-
Update Kericuhan Lukas Enembe: 14 Orang Diperiksa, Polisi Data Puluhan Kendaraan yang Rusak
-
Momen Akrab Presiden Prabowo Dialog di Atas Perahu: Borong Keluhan Nelayan Gorontalo
-
4 Rekomendasi Sepatu Lokal Harga Rp 300 Ribuan dengan Kualitas World Class
-
Tak Terima Ibunya Disebut 'Penyakitan', Pria di Pandeglang Cekik Kekasih hingga Tewas
-
Modus Licin Pengedar Cimahi, Sembunyikan Sabu di Tumpukan Beras Hingga Transaksi di Pos Satpam
-
PFI Bogor Gelar Bedah Foto APFI 2026, Soroti Risiko dan Etika Jurnalisme Visual Dunia
-
MBG Bisa Dijalankan Tanpa Ganggu Kondisi Fiskal, Begini Caranya
-
Koleksi Terbaru Musim Panas 2026, Pedro Tawarkan Gaya Pesisir yang Ringan, Elegan, dan Timeless
-
Cuma di Jakarta, Penonton Konser Westlife Bisa Bawa Pulang Gelang LED Eksklusif