- KH Imam Jazuli meyakini tugas pesantren adalah pendidikan, bukan alat tawar politik sektarian, menjaga kesucian amanah.
- Pesantren BIMA tetap unggul kompetitif mencetak santri mendunia, terbukti dari ribuan beasiswa dan persebaran lulusan global.
- Beliau menolak dana eksternal dan menghargai keragaman politik walisantri, menunjukkan integritas finansial dan demokrasi tinggi.
Suara.com - Sekali waktu, ketika pikiran semakin membuncah, saya memberanikan diri mengajukan satu pertanyaan tajam kepada pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia: Kiai Haji Imam Jazuli.
Terus terang, pertanyaan yang saya ajukan sebenarnya menjadi kegelisahan banyak orang, terutama yang mencintai beliau.
"Kiai, tidakkah panjenengan khawatir ketokohan panjenengan akan luntur akibat kritik-kritik tajam yang selalu 'update' panjenengan sampaikan melalui media sosial?" kata saya saat itu.
Lalu, saya terus mengajukan pertanyaan lanjutan, "Apakah panjenengan tidak merasa takut bila Pesantren Bina Insan Mulia akan ditinggalkan santri dan walisantri hanya karena kevokalan panjenengan di ruang publik?"
Mendengar itu, beliau tidak menunjukkan gurat kecemasan.
Sebaliknya, dengan ketenangan seorang pejuang yang sudah meyakini dirinya untuk memegang sebuah prinsip, dia memberikan jawaban yang melampaui logika pragmatis.
Bagi KH Imam Jazuli, keberadaan santri dan besarnya pesantren bukanlah alat tawar politik, melainkan amanah pendidikan yang harus dijaga kesuciannya dari kepentingan sektarian.
Dari sinilah, sebuah pelajaran besar tentang pendidikan politik bermula.
Pesantren BIMA Melampaui Politik
Baca Juga: Bikin Acara Istighosah, Gus Miftah Paksa Gus Ipul dan Gus Ipang Wahid Rogoh Kocek Sendiri
Para walisantri Bina Insan Mulia (BIMA) tidak perlu merasa khawatir atau ragu terhadap pernyataan-pernyataan vokal KH Imam Jazuli di media sosial.
Dinamika pemikirannya di ruang publik, sama sekali tidak mereduksi apalagi mengganggu stabilitas operasional pesantren.
Justru sikap kritis beliau adalah cerminan dari kecerdasan intelektual, yang juga ditanamkan dalam kurikulum pesantren.
Hingga saat ini, BIMA tetap tegak berdiri sebagai pesantren favorit yang unggul secara kompetitif.
Fokus utama lembaga ini tetap konsisten pada kualitas pengajaran dan prestasi akademik.
Alih-alih terpengaruh oleh hiruk-pikuk politik, BIMA justru semakin memantapkan diri dalam mencetak output santri yang mendunia.
Tag
Berita Terkait
-
Bikin Acara Istighosah, Gus Miftah Paksa Gus Ipul dan Gus Ipang Wahid Rogoh Kocek Sendiri
-
Sikap PKB Usai Kiai Ma'ruf Amin Pilih Jalan Uzlah
-
Gus Yahya Tolak Keputusan Lirboyo, Minta Konflik NU Diselesaikan lewat Muktamar
-
Prahara PBNU: Gus Yahya Beri Instruksi Keras, Pengurus Wilayah Jangan Sampai Terbengkalai
-
Ngebet Islah, Gus Yahya: Biar Semua Masalah Diselesaikan Muktamirin di Muktamar
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang
-
Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan
-
Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma
-
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
-
Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'
-
Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara
-
Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak
-
Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran
-
Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak