- Studi Gen Z menunjukkan preferensi tinggi terhadap konten visual menarik dari homeless media di media sosial daripada berita formal.
- Homeless media tumbuh pesat sebagai sumber informasi lokal, seringkali mengutamakan kecepatan informasi yang berisiko menimbulkan misinformasi.
- Fenomena clickbait dan news abuse di homeless media mencerminkan pendekatan mirip jurnalisme tabloid yang minim verifikasi konten.
News Abuse, Sebuah Konsekuensi
Salah satu fenomena menarik yang terjadi di Korea Selatan adalah news abuse. Kwak, Hong, C Lee (dalam Pramesti, 2023) menjelaskan bahwa news abuse adalah penyalahgunaan berita dengan menyalin berita yang viral tanpa izin, dan disebarluaskan dengan harapan klik pengguna.
Berdasarkan riset penulis, news abuse ini juga terjadi di Indonesia, dan dilakukan oleh pengelola akun homeless media. Kendati saat mengupload berita dituliskan sumber beritanya, namun sering kali produsen berita kurang memperhatikan betul kebenaran informasi ini. Akhirnya kecepatan unggahan dan penyebaran informasi menjadi hal yang diprioritaskan.
News abuse ini sangat rentan sekali pada misinformasi, konten palsu, bahkan ujaran kebencian. Riyanto (2024) mengemukakan meski homeless media mampu mendukung partisipasi publik, dan memberikan informasi real time, namun homeless media dapat memperkuat stereotipe berbahaya dan menyebarkan informasi salah.
Kutipan ini terkonfirmasi ketika penulis mengamati beberapa akun homeless media di Instagram, pengelola sering mengonfirmasi bahwa konten adalah hoaks, dan banyak komentar- komentar netizen yang kadang mengonfirmasi informasi yang salah.
Tentu saja news abuse ini bisa membuat panik masyarakat. Dari konten yang dikonsumsi justru membuat pengguna overthinking, dan bisa terarah pada opini yang yang sesat. Hal ini berbanding terbalik dari esensi kegiatan jurnalistik, di mana jurnalistik bertujuan memberikan informasi yang benar dan menyejahterakan masyarakat.
Tanpa disadari, sebenarnya homeless media ini turut melakukan kegiatan jurnalistik ini, hanya saja belum didasari pengetahuan dan etika soal jurnalistik atau media. Pramesti (2022) mengemukakan bahwa content creator media sosial lebih mengutamakan kemampuan mereka di bidang digital, dan sering abai pada etika konten.
Kesadaran akan Kebenaran Informasi
Di sisi lain, hadirnya homeless media turut menjadi keresahan pelaku media arus utama. Berita yang diproduksi dengan proses ketat dan benar, justru tidak banyak dikonsumsi Gen Z. Bahkan, berita yang diunggah di akun homeless media yang dicomot dari berita arus utama, lebih mendapatkan banyak engagement dari pembaca.
Hal ini menjadi refleksi khususnya bagi pelaku homeless media untuk melakukan strategi konten yang tentunya bisa membuat masyarakat cerdas dan sejahtera. Kesadaran pada kebenaran menjadi fondasi bagi seluruh produsen informasi. Kebenaran informasi ini ditemukan pada jurnalisme tradisional di mana proses pemuatan informasi didasarkan prinsip verifikasi dan akurasi yang ketat.
Kedua prinsip ini menjadi prinsip penting untuk menghasilkan berita benar dan juga mencerdaskan pengguna media sosial. Kesadaran ini pastinya akan dipertimbangkan menjadi faktor utama penyebaran informasi dibandingkan kecepatan. Hal yang menarik dari Kovach dan Rosenstiel (2014) soal esensi jurnalisme intelektual yang menurut penulis sangat bisa diaplikasikan oleh pelaku homeless media.
Pertama, jangan membuat informasi palsu sebelum tahu kebenarannya. Kedua, jangan menipu khalayak bila belum melakukan konfirmasi apapun. Konfirmasi bisa dilakukan dengan melihat langsung kejadiannya. Ketiga, informasi harus transparan, disertai sumber yang kredibel atas informasi. Keempat, liputan langsung adalah liputan yang terbaik. Dan kelima, kerendahan hati untuk mendengarkan cerita orang lain untuk menghindari kesalahan. Komentar dari pengguna atas sebuah konten, semestinya perlu ditanggapi dengan bijak dan dikonfirmasi kebenarannya.
Esensi jurnalisme intelektual ini penting untuk meningkatkan literasi digital pada konten-konten yang dikonsumsi Gen Z. Pelaku homeless media memiliki peluang untuk menjadi garda depan informasi, hanya perlu dibarengi dengan fondasi kuat yakni menyebarkan berita benar dan utuh. Untuk penguatan fondasi tersebut, kolaborasi dengan pelaku media arus utama sangat dibutuhkan.
Olivia Lewi Pramesti, M. A
Dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Berita Terkait
-
Minuman Beralkohol vs Kopi Gula Aren: Gen Z Lawan Emisi Bikin Industri Miras Gigit Jari
-
Lebih dari Sekadar Fun Run: Ini Konsep "Running Date" Pertama yang Viral di Kalangan Gen Z
-
Self-Neglect Era Gen Z: Saat Kita Baru Peduli Diri Sendiri setelah Burnout
-
Gabung Sinetron Asmara Gen Z, Oliver Roberts Ogah Jual Nama William Roberts
-
Marsha Aruan Serukan Pentingnya Usaha dalam Cinta, Keluarga, dan Karier dalam Peran Terbaru
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Jelang Kunjungan Prabowo ke Inggris, Trah Sultan HB II Tolak Keras Kerja Sama Strategis! Ada Apa?
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
Terkini
-
Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi
-
Politik Emansipatoris di Pesantren, Belajar dari KH Imam Jazuli
-
Dari Inspeksi ke Inspeksi, Sebuah Upaya Menjaga Kualitas Program MBG
-
Rantai Pasok Indonesia dalam Bayang Bencana Alam: Pelajaran dari Aceh dan Sumatera
-
Mengawal Tata Ruang Sumut demi Menjaga Keutuhan Ekosistem Batang Toru
-
Menakar Masa Depan PPP Pasca Dualisme
-
Teori 'Menumpang Hidup' dan Alasan Mengapa Profesi Polisi Tetap 'Seksi'
-
Menolak Pasien Adalah Pelanggaran Kemanusian dan Hak Asasi Pasien
-
Inovasi Urban Farming Keluarga, Agar Peternak Kecil Tidak Tergilas 'Oligarki Ayam'
-
Daya Beli Lesu Hantam Industri Elektronik, Jurus 'Inovasi Hemat Energi' Jadi Andalan