- Artikel The Economist mengkritik kebijakan fiskal Presiden Prabowo yang berisiko mengancam stabilitas ekonomi dan demokrasi di Indonesia.
- Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dinilai berisiko membebani anggaran negara di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
- Tantangan pemerintahan Prabowo adalah menjaga disiplin fiskal agar tidak memicu krisis politik dan tuduhan otoritarianisme di masa depan.
Padahal pelemahan checks and balances, politik kartel, dominasi oligarki, hingga politisasi penegakan hukum sudah berlangsung jauh sebelum Prabowo menjadi presiden.
Vedi Hadiz dalam Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia (2010) justru menunjukkan bahwa setelah Reformasi, Indonesia tidak benar-benar keluar dari dominasi elite lama. Yang berubah hanyalah pola distribusi kekuasaannya.
Demokrasi Indonesia berkembang menjadi sistem elektoral yang tetap dikuasai oleh konsolidasi elite politik dan ekonomi. Karena itu, terlalu sederhana jika seluruh kecenderungan iliberal Indonesia hari ini diletakkan hanya di pundak Prabowo. Ia mungkin mempercepat proses tersebut, tetapi ia bukan penciptanya.
Meski demikian, ada satu hal yang sangat tepat ditangkap oleh The Economist: kombinasi antara tekanan fiskal, konsentrasi kekuasaan, dan melemahnya oposisi memang dapat menjadi campuran berbahaya. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa krisis ekonomi hampir selalu berubah menjadi krisis politik. Kejatuhan Soekarno didahului kehancuran ekonomi. Kejatuhan Soeharto dipicu krisis moneter. Dalam konteks seperti itu, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan nilai tukar, tetapi juga persoalan legitimasi politik.
Inilah tantangan terbesar pemerintahan Prabowo. Jika ia berhasil menjaga stabilitas fiskal sambil membangun kapasitas negara melalui MBG dan proyek-proyek sosialnya, ia mungkin akan dikenang sebagai arsitek baru negara kesejahteraan Indonesia. Tetapi jika disiplin fiskal runtuh, rupiah terus melemah, dan ketidakpuasan sosial membesar, maka seluruh narasi tentang pembangunan negara kuat akan berubah menjadi tuduhan otoritarianisme yang jauh lebih sulit dibendung.
Pada akhirnya, artikel The Economist terlalu bias secara ideologis dan terlalu hitam-putih dalam membaca Prabowo. Tetapi justru karena itu tulisan tersebut penting dibaca. Ia menunjukkan bagaimana dunia internasional mulai memandang Indonesia: bukan lagi sekadar demokrasi muda yang menjanjikan, tetapi negara besar yang sedang dipertaruhkan arah masa depannya.
Pius Lustrilanang
Aktivis dan mantan politikus Partai Gerindra.
Berita Terkait
-
Presiden Prabowo Tepis Isu RI Bakal Collapse, Sebut Indonesia Masih Oke!
-
Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto yang Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar
-
Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?
-
Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor
-
Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang
-
Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan
-
Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma
-
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
-
Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'
-
Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara
-
Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak
-
Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran
-
Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak