- Adopsi AI yang mencapai 92% di Indonesia menuntut karyawan memiliki kemampuan komunikasi bahasa Inggris yang efektif demi mendukung produktivitas.
- Miskomunikasi dalam kolaborasi lintas negara dapat menghambat operasional, meningkatkan biaya, serta menurunkan daya saing perusahaan di pasar global.
- Perusahaan kini menggunakan asesmen terstandar untuk memetakan kebutuhan pelatihan karyawan guna memperkuat kapabilitas bisnis dan jenjang karier profesional.
Suara.com - Transformasi digital memang mengubah cara perusahaan bekerja. Namun di balik pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi, ada satu keterampilan yang justru semakin menentukan keberhasilan karier maupun bisnis, yakni kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Bukan sekadar fasih berbicara, tetapi juga mampu menyampaikan ide dengan jelas, berkolaborasi lintas budaya, serta membangun pemahaman yang sama dalam lingkungan kerja yang semakin global.
Seiring percepatan transformasi digital di Indonesia, perusahaan semakin dituntut berinvestasi tidak hanya pada teknologi baru, tetapi juga pada sumber daya manusia yang menggunakannya.
Perluasan pelatihan kecerdasan buatan (AI) dan keterampilan digital melalui balai pelatihan kerja oleh Kementerian Ketenagakerjaan mencerminkan semakin besarnya kesadaran bahwa pekerja membutuhkan dukungan untuk beradaptasi dengan otomatisasi, AI, dan disrupsi digital.
Dn bagi dunia usaha, peningkatan keterampilan tenaga kerja kini menjadi faktor penting untuk mendorong produktivitas, daya saing, dan pertumbuhan jangka panjang.
Kementerian Komunikasi dan Digital baru-baru ini melaporkan bahwa tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92%, menunjukkan betapa cepat pelaku usaha mulai memanfaatkan teknologi baru.
Namun, penggunaan teknologi tidak otomatis menghasilkan kinerja bisnis yang lebih baik. Dampaknya sangat bergantung pada kemampuan karyawan memahami informasi, menerapkannya secara efektif, serta mengomunikasikan keputusan dengan jelas.
Banyak perusahaan telah berinvestasi pada platform data, perangkat otomasi, solusi AI, maupun pelatihan teknis.
Teknologi tersebut mampu mempercepat pekerjaan, membantu menemukan informasi lebih cepat, serta mengurangi tugas-tugas repetitif.
Namun, manfaatnya tidak akan optimal tanpa komunikasi yang efektif. Ketika komunikasi tidak berjalan baik, bahkan teknologi terbaik sekalipun belum tentu mampu menghasilkan dampak yang diharapkan.
Kesenjangan komunikasi sering kali muncul dalam bentuk yang sederhana, seperti arahan yang disalahartikan, email kepada klien yang membingungkan, rapat tanpa tindak lanjut yang jelas, atau miskomunikasi antartim yang membuat pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan.
Jika terus berulang, persoalan ini dapat menghambat produktivitas sekaligus meningkatkan biaya operasional karena waktu dan energi habis untuk menyelesaikan kesalahpahaman.
Tantangan komunikasi menjadi semakin penting ketika pekerjaan melibatkan kolaborasi lintas tim, pasar, maupun negara.
Realisasi investasi Indonesia yang mencapai Rp1,93 kuadriliun pada 2025 menunjukkan bahwa Indonesia semakin terhubung dengan pasar global.
Seiring meningkatnya interaksi dengan klien regional, mitra internasional, dan tim lintas negara, kemampuan komunikasi bahasa Inggris menjadi semakin penting untuk mendukung kolaborasi sekaligus memperkuat daya saing perusahaan Indonesia di tingkat global.
Namun, kemampuan bahasa Inggris saja tidak cukup. Komunikasi yang efektif juga mencakup kemampuan mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan yang tepat, menulis dengan jelas, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta memastikan seluruh anggota tim memiliki pemahaman yang sama.
Karena itu, perusahaan perlu memahami bukan hanya tingkat kemampuan bahasa Inggris karyawan, tetapi juga keterampilan komunikasi yang dibutuhkan dalam setiap peran.
Dalam praktiknya, kemampuan komunikasi masih sering dinilai secara informal melalui pengamatan saat rapat, presentasi, atau interaksi sehari-hari. Meski dapat memberikan gambaran awal, pendekatan tersebut belum tentu mampu menggambarkan efektivitas komunikasi secara menyeluruh.
Akibatnya, banyak perusahaan kesulitan mengidentifikasi kesenjangan keterampilan yang sebenarnya dimiliki karyawan.
Permasalahan bisa berupa kurangnya rasa percaya diri saat berbicara, kemampuan menulis yang belum jelas, keterbatasan kosakata bisnis, kesulitan memahami informasi yang didengar, atau belum mampu menjelaskan konsep yang kompleks secara sederhana.
Karena setiap karyawan memiliki kebutuhan pengembangan yang berbeda, pendekatan pelatihan yang bersifat seragam (one-size-fits-all) sering kali kurang efektif. Tanpa pemahaman yang jelas mengenai kemampuan spesifik karyawan, investasi pelatihan berisiko tidak memberikan hasil optimal.
Program pengembangan komunikasi yang terlalu umum misalnya, bisa saja berfokus pada keterampilan menulis, padahal tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan berbicara di depan klien atau memimpin diskusi.
Hal ini menjadi semakin relevan di Indonesia, mengingat tenaga kerja memiliki latar belakang pendidikan, tingkat paparan bahasa Inggris, dan pengalaman profesional yang sangat beragam.
Perusahaan membutuhkan gambaran yang jelas mengenai kemampuan karyawan saat ini, tuntutan komunikasi pada masing-masing peran, serta bagaimana keterampilan tersebut dapat terus dikembangkan.
Asesmen yang terstruktur dapat memberikan kejelasan tersebut dengan membantu organisasi mengidentifikasi kekuatan sekaligus area yang masih perlu ditingkatkan. Dengan demikian, perusahaan dapat mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.
Wawasan tersebut juga membantu organisasi merancang program pelatihan yang lebih tepat sasaran, meningkatkan kualitas rekrutmen, serta mempersiapkan karyawan untuk peran kepemimpinan, posisi yang berhadapan langsung dengan pelanggan, maupun tanggung jawab regional dan lintas negara.
Sejumlah perusahaan telah mulai menerapkan pendekatan ini. Alih-alih hanya mengandalkan intuisi, semakin banyak perusahaan menggunakan asesmen bahasa Inggris sebagai bagian dari perencanaan tenaga kerja.
TOEIC Global English Skills Report 2026 dari ETS menemukan bahwa 78% perusahaan menggunakan penilaian bahasa Inggris untuk rekrutmen, 71% menggunakannya sebelum program pelatihan atau pengembangan, dan 66% memanfaatkannya untuk menilai kesiapan promosi.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan menilai asesmen terstandar dari pihak ketiga lebih efektif dibandingkan asesmen internal.
Temuan tersebut mencerminkan perubahan penting. Penilaian kemampuan komunikasi tidak lagi sekadar berkaitan dengan pembelajaran bahasa, tetapi telah menjadi bagian dari strategi organisasi untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan karyawan dan membangun jalur kepemimpinan yang lebih kuat. Hal ini penting karena tuntutan komunikasi umumnya akan meningkat seiring perkembangan karier seseorang.
Meningkatnya pentingnya kemampuan bahasa Inggris di dunia kerja juga tercermin dari perspektif para profesional.
Berdasarkan 2025 TOEIC Speaking and Writing Report on Test Takers Worldwide, sebanyak 56% peserta tes Speaking dan 48% peserta tes Writing mengikuti asesmen tersebut untuk keperluan melamar pekerjaan.
Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi bahasa Inggris kini dipandang sebagai keterampilan yang mampu meningkatkan peluang karier, bukan sekadar memenuhi persyaratan akademik.
Bagi perusahaan Indonesia yang bersaing di pasar global, komunikasi bukan lagi sekadar soft skill, melainkan kapabilitas bisnis yang memengaruhi efektivitas seseorang dalam bekerja, memimpin, berkolaborasi, dan menciptakan nilai tambah.
Pertanyaannya bukan lagi apakah komunikasi itu penting, melainkan apakah organisasi telah siap mengukur, mengembangkan, dan memperkuat kemampuan komunikasi karyawannya sebelum biaya tersembunyi akibat miskomunikasi menjadi semakin besar.
Dengan strategi yang tepat, perusahaan tidak hanya meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang.