Suara.com - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligenceI) membuat kebutuhan listrik di berbagai negara terus meningkat. Di balik kemampuan AI menjawab pertanyaan, membuat gambar, hingga membantu pekerjaan sehari-hari, ada ribuan server di pusat data (data center) yang bekerja selama 24 jam tanpa henti.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Energy & Fuels memperkirakan kapasitas listrik pusat data di Amerika Serikat akan meningkat dari sekitar 40 gigawatt pada 2025 menjadi 169 gigawatt pada 2030.
Jika tambahan kebutuhan energi tersebut masih dipenuhi oleh pembangkit listrik berbahan bakar fosil, emisi karbon dioksida diperkirakan bisa bertambah hingga 404 juta metrik ton per tahun.
"Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu membangun infrastruktur komputasi, tetapi apakah kita bisa menyediakan listrik yang andal, terjangkau, dan tetap mendukung target dekarbonisasi," kata pakar dari Universitas Rice sekaligus pendiri Low Carbon Energies LLC, Hon Chung Lau.
Bersama Steve C. Tsai, Lau menganalisis data publik mengenai lokasi pusat data, kebutuhan listrik, dan sumber energinya. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan terbesar diperkirakan terjadi di Texas, Virginia, Pennsylvania, Ohio, Arizona, Colorado, Utah, dan Illinois. Texas sendiri diproyeksikan membutuhkan sekitar 25 gigawatt listrik untuk menopang pusat data pada 2030.
Namun, penelitian ini juga menawarkan peluang untuk menekan dampak emisi. Salah satunya melalui teknologi carbon capture and storage (CCS), yaitu menangkap karbon dioksida dari pembangkit listrik sebelum dilepas ke atmosfer, lalu menyimpannya di bawah permukaan tanah.
Peneliti menemukan 34 negara bagian di Amerika Serikat memiliki cadangan akuifer air asin yang berpotensi menyimpan emisi karbon selama lebih dari 100 tahun. Jika penyimpanan karbon lintas negara bagian dimanfaatkan, lebih dari 90 persen emisi karbon dari sektor pusat data berpotensi dikurangi.
Meski demikian, Lau menegaskan bahwa CCS bukan satu-satunya solusi. Menurutnya, pertumbuhan AI perlu dibarengi dengan pemanfaatan energi yang lebih bersih, peningkatan efisiensi pusat data, serta kebijakan yang mendukung transisi energi.
"Ekonomi AI akan terus membutuhkan energi dalam jumlah besar. Penelitian kami membantu menunjukkan di mana permintaan itu akan tumbuh, seberapa besar potensi emisinya, dan bagaimana penyimpanan karbon dapat menjadi bagian dari solusinya," ujar Lau.
Baca Juga: Distribusi BBM Kini Gunakan AI, Begini Caranya
Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak harus bertentangan dengan upaya mengatasi perubahan iklim. Dengan perencanaan energi yang tepat, inovasi digital dan target pengurangan emisi dapat berjalan beriringan.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Monarki Jepang Terancam Punah, Akankah Wanita Jadi Kaisar?
-
Falkland atau Malvinas? Sengketa Lama Inggris vs Argentina yang Panaskan Semifinal Piala Dunia 2026
-
Bahrain Diserang Iran, Kemendagri Bunyikan Sirine Umumkan Darurat Warga Disuruh Berlindung
-
Kembali Diperiksa KPK, Gus Yaqut Berharap Kebenaran Terungkap di Kasus Kuota Haji
-
FKBI Kritik Tayangan World Cup 2026 TVRI Gara-Gara Promosi Super Soccer
-
Sekolah Rakyat Junjung Prinsip Setiap Siswa Berharga, ESQ Dukung Pemetaan Talenta Siswa
-
Gawat! Perang AS - Iran Kali Ini Tanpa Batas Waktu, Trump Ungkit Kesepakatan Awal
-
28.478 Siswa Baru Masuk Sekolah Rakyat
-
MPLS Sekolah Rakyat Digelar Bertahap Empat Gelombang
-
JPO Tendean Nyaris Ambruk, Crane Masih Tersangkut dan Kemacetan Mengular