Dalam kekacauan yang terjadi setelah ledakan bom, dia menuju Nakayamatoge, jalan setapak pegunungan menuju rumah kerabatnya di Gion.
Di jalan, dia melintasi ribuan orang meninggalkan kota yang hancur.
"Orang terluka di mana-mana. Saya melihat puluhan orang yang tubuhnya terbakar atau bernanah, yang bola matanya menyembul karena tekanan akibat ledakan, atau yang organ dalamnya menyembul dari tubuh dan mulut," tulisnya.
"Ketika saya berjalan, seseorang tiba-tiba meraih pergelangan kaki saya dan memohon, 'Nona muda, bisakah Anda memberi saya air?' Saya menepis tangannya... dan berkata, "Maafkan saya, maafkan saya!" Saya dipenuhi rasa takut dan terus berjalan untuk melarikan diri."
Di Gion, Michiko merasa lega karena ibunya masih hidup. Namun tidak ada waktu untuk memulihkan diri.
"Selama 10 hari, ibu dan saya berjalan di sekitar Hiroshima, mencari kakak laki-laki saya, seorang tentara. Kami kemudian menemukan... dia telah meninggal di pusat ledakan... Jenazah kakak saya tidak pernah ditemukan."
Dia mungkin selamat, tapi Michiko jatuh sakit segera setelah itu. Gejala yang dia alami menjadi familiar bagi para dokter yang masih hidup.
"Saya mulai munjukkan gejala penyakit radiasi... Saya mengalami pendarahan dari gusi dan hidung saya, saya mengalami diare parah, rambut saya rontok dan bintik-bintik ungu muncul di seluruh tubuh saya," tulisnya kemudian.
"Saya dimasukkan ke dalam isolasi di gudang milik kerabat teman dan saya antara hidup dan mati. Semua orang di sekitar saya mengira saya akan mati, tetapi secara ajaib, saya selamat."
Baca Juga: Jepang Peringati Tragedi Hiroshima yang ke-75 Tahun
Pemboman Hiroshima dan Nagasaki tiga hari sesudahnya tidak serta merta mengakhiri Perang Dunia II.
Blokade laut AS, invasi Rusia yang akan segera terjadi dan Deklarasi Postdam yang disusun ulang - syarat untuk penyerahan diri Jepang - untuk memungkinkan berlanjutnya pemerintahan Kekaisaran juga menentukan.
Pada 15 Agustus, penyerahan diri Kaisar Hirohito disiarkan di seluruh negeri.
Ketika dia mengumumkan bahwa Jepang akan "menanggung beban berat", banyak warga Hiroshima yang terkejut, bukankah mereka sudah menanggungnya?
Dalam beberapa hari, pekan dan bulan kemudian, Hiroshima dengan penuh ketabahan perlahan pulih.
Tiga hari setelah pemboman, kereta, trem dan bus beroperasi kemabali.
Dua bulan setelah itu, sekolah dibuka kembali meski kegiatan belajar mengajar dilakukan di gedung yang setengahnya hancur dan kelas di ruangan terbuka.
Dan dengan semua bank di seluruh kota hancur, kecuali Bank Jepang - satu-satunya yang selamat - mengundang pesaingnya untuk membuka kembali kantor cabangnya.
Hiroshima bangkit dari abu.
Michiko juga membangun kembali hidupnya.
"Pada 1948, ketika berusia 18 tahun, saya menikah. Pada April 1949, saya melahirkan bayi perempuan. Namun dia meninggal dua pekan kemudian. Saya percaya kematian bayi saya karena efek samping bom atom."
Dia melahirkan dua anak yang sehat, namun segera mendapat masalah lain. Suaminya kerap menghilang untuk menghabiskan waktu dengan kekasihnya, membawa serta penghasilan Michiko bersamanya.
Karena kelelahan akibat penyakit radiasi, frustrasi dengan perselingkuhan suaminya dan keinginan untuk bebas dari situasinya, Michiko sering menitipkan anak-anaknya ke kerabatnya. Ketika mereka kembali, dia akan melampiaskan rasa frustrasinya pada putrinya, Sanae.
"Pada tahun 1964, ibu saya meninggal karena kanker. Dalam keluarga saya, saya ditinggalkan sendirian. Ibu saya telah menerima tunjangan kehilangan akibat perang. Pemerintah Jepang menariknya setelah kematian ibu saya."
Ketika Michiko akhirnya menghadapi suaminya, dia mengaku berselingkuh dan meninggalkannya untuk kekasihnya. Tanpa dukungan keuangan dari suaminya atau negara, Michiko berjuang keras.
Dia mendapatkan pekerjaan sebagai pendamping tamu di sebuah restoran tradisional Jepang; setiap malam, dia mengenakan kimononya dan melayani pelanggan hingga larut malam.
Setiap tahun, pada 6 Agustus, Hiroshima mengadakan Upacara Peringatan Perdamaian, dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Bunda Theresa, Fidel Castro dan Mikhail Gorbachev.
Tetapi Michiko tidak dapat mendamaikan pidato perdamaian dengan apa yang dia alami pada saat itu dan tidak pernah menghadiri upacara pagi.
Dia akan hadir di sana pada malam hari untuk menyaksikan lentera mengambang, yang melambangkan jiwa mereka yang meninggal, dilepaskan ke Sungai Motoyasu.
Ketika Sanae memiliki anak - perempuan dan laki-laki - hubungannya yang renggang dengan putrinya berangsur-angsur sembuh.
Selama Obon, liburan bulan Agustus ketika keluarga menghormati arwah nenek moyang mereka, dia mengunjungi keluarga Sanae. Bersama-sama mereka akan menonton drama TV tentang bom atom. Michiko menganggap drama TV itu tidak meyakinkan.
"Anna mono janai!" - "Bukan seperti itu!" - keluarganya ingat ucapannya.
Selama sebagian besar hidupnya, Michiko tidak banyak berbicara tentang pengalamannya pada tahun 1945.
Tetapi menjelang peringatan 50 tahun pemboman, pada tahun 1995, dokter Michiko menyarankan agar dia menulis sendiri tentang kejadian-kejadian tersebut, untuk membantunya menemukan jalan keluar.
Awalnya Michiko enggan, tapi akhirnya dia setuju; dia takut jika tidak, ingatannya akan hilang selamanya.
Pada saat itu, Hiroshima adalah kota modern yang berkembang pesat dengan jalan raya yang lebar, toko-toko mewah, dan sedikit peninggalan masa lalu yang tragis.
Michiko tinggal di sebuah flat di dekat pusat kota ketika dia dipindahkan ke Hesaka, pinggiran timur.
Apartemen barunya berada di dekat Nakayamatoge, jalur pegunungan yang dia lintasi pada hari pemboman.
Sosok yang mencengkeram pergelangan kakinya kembali menghantuinya.
"Saya tidak akan pernah bisa menghapus suara orang tersebut dari kenangan saya," ujarnya.
Ketika saya pindah ke Hiroshima, saya hanya tahu sedikit tentang sejarah tersebut. Namun, saya bertemu dengan seorang perempuan bernama Kaori, cucu yang menuturkan kisah Michiko. Beberapa tahun kemudian, sebagai suami dan istri, kami menerjemahkan tulisan Michiko - tergerak oleh kisahnya yang sedih dan kegigihan untuk bertahan.
Istri saya ingat Michiko mengalami depresi di tahun-tahun berikutnya.
Sebagai perempuan yang berpikiran kuat dalam masyarakat yang menghargai tatemae (sanjungan) daripada honne (kejujuran), dia selalu berjuang untuk mencari teman.
Tapi sekarang dia merasa benar-benar terisolasi. Kemudian, karena menderita demensia, dia pindah ke panti jompo. Michiko meninggal pada Januari 2012.
Catatan tertulisnya sekarang telah ditempatkan di Peace Memorial Hall di Hiroshima - kenangan seorang perempuan tentang hari yang mengubah sejarah dan mengubah jalan hidupnya sendiri selamanya.
Karya terakhirnya mengisyaratkan kemampuan manusia untuk mengatasi kesulitan dan membangun kehidupan kembali.
"Sekarang, pada peringatan 50 tahun bom atom, saya merasakan kembali betapa berharganya hidup."
Berita Terkait
-
3 Tahun dalam Penyiksaan: Bagaimana Penyekapan YTR Bisa Luput dari Pantauan Sekitar?
-
K-Beauty Makin Melokal, Hadirkan Shade Khusus untuk Kulit Perempuan Indonesia
-
Elektrifikasi Transportasi Kian Melaju, Target 10.000 Bus Listrik Didukung Ekosistem Terintegrasi
-
Selly Gantina Kecam Aksi Biadab Pacar Sekap Perempuan 3 Tahun di Bandung: Tak Boleh Ada Impunitas
-
Fakta di Balik Kasus Yuvita: Mengapa Penyiksaan 3 Tahun Bisa Terjadi Tanpa Diketahui Warga?
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
70mai Gebrak Pasar Dashcam Indonesia Lewat Produk Berteknologi True 4K dan Koneksi 4G
-
5 Rahasia Vario Evo 160 Terbongkar: Tarikan Makin Buas, Tak Cuma Sekadar Ganti Baju
-
Bayar Pajak Kendaraan di Jawa Barat Kini Bisa Dicicil, Tapi Harus Punya Rekening Bank
-
Tren Baru Komunitas Otomotif Bukan Sekadar Nongkrong Mobil Kini Lirik Olahraga Terkini
-
AISMOLI Desak Pemerintah Beri Kepastian Insentif Motor Listrik Jangka Panjang
-
Honda Vario Evo 160 Resmi Meluncur, Intip Komparasi Versus Trio Yamaha MAXi 155
-
Apa Bedanya Honda Vario Evo 160 vs Vario 160 Edisi Sebelumnya?
-
Spesfikasi Lengkap dan Harga Honda Vario Evo 160
-
New Honda Vario Evo 160 Resmi Meluncur, Termurah Rp 28 Juta
-
Infrastruktur SPKLU Masih Jadi Kendala, DFSK Pilih Main Aman dengan Mobil PHEV