Suara.com - Penelitian baru menyebut meskipun lockdown sempat membuat tingkat emisi menurun, namun aturan dalam waktu singkat ini hanya akan berdampak sedikit atau bahkan tidak sama sekali terhadap krisis iklim yang lebih luas.
Meski begitu, rencana pemulihan ekonomi pasca-lockdown dapat memberikan kesempatan langka agar mengarahkan kembali ekonomi global menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan dan dapat memenuhi target yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris atau Paris Agreement 2020 untuk climate action.
Bumi secara umum dianggap telah menghangat sekitar 1,1 derajat Celsius sejak awal Revolusi Industri, dengan kenaikan 0,2 derajat hingga 0,9 derajat Celsius diperkirakan terjadi pada 2050. Tantangan besar adalah untuk membatasi pemanasan terjadi lebih lanjut hingga 1,5 derajat Celsius.
Meskipun terjadi penurunan emisi yang signifikan tetapi singkat, studi baru menemukan bahwa tindakan penguncian yang sedang berlangsung hanya akan mengurangi pemanasan global sebesar 0,01 derajat Celsius menjadi 0,005 derajat Celsius lebih rendah dari perkiraan sebelumnya pada 2030. Dengan kata lain, efek jangka panjang dari lockdown tentang perubahan iklim sangat mengecewakan.
Namun, studi ini juga berpendapat jika ekonomi global beralih dari lockdown dengan rencana pemulihan ekonomi hijau, maka ada kemungkinan menjaga Bumi dari pemanasan melebihi 1,5 derajat Celsius pada pertengahan abad ini.
"Pilihan yang dibuat sekarang dapat memberi kita peluang kuat untuk menghindari pemanasan tambahan 0,3 derajat Celsius pada pertengahan abad, mengurangi separuh dari pemanasan yang diharapkan berdasarkan kebijakan saat ini," kata Piers Forster, penulis studi dan profesor Perubahan Iklim Fisik di Universitas Leeds, seperti dikutip dari IFL Science pada Sabtu (8/8/2020).
Dilaporkan dalam jurnal Nature Climate Change minggu ini, para ilmuwan di Inggris menghitung 10 gas rumah kaca dan polutan udara berubah antara Februari dan Juni 2020 di 123 negara dengan melihat simulasi NASA yang digabungkan dengan data tentang pergerakan orang yang dikumpulkan oleh Apple dan Google.
Para ahli menemukan bahwa mobilitas menurun lebih dari 10 persen selama April 2020 di 124 negara, sementara mobilitas menurun hingga 80 persen di lima atau lebih negara.
Secara kasar, ini diterjemahkan menjadi 10 hingga 30 persen penurunan global terhadap karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), dan emisi lainnya pada April 2020. Namun, efek keseluruhan pada iklim Bumi tidak akan berarti karena banyak emisi, termasuk CO2, dapat bertahan di atmosfer untuk waktu yang lama. Selain itu, tingkat polusi sudah kembali mendekati normal di banyak bagian dunia.
Baca Juga: Bikin Penasaran, Orang Ini Akali Emisi Motor 2-Tak Agar Ramah Lingkungan
Dengan sebagian besar negara mulai menyusun rencana pemulihan ekonomi pasca-lockdown, studi tersebut berpendapat bahwa manusia dapat membuat peluang untuk membentuk kembali ekonomi dengan mendorong energi terbarukan dan efisiensi tinggi, daripada memulihkan industri bahan bakar fosil. Dengan demikian, Bumi dapat memenuhi beberapa target iklim yang diinginkan dan menghindari beberapa perubahan iklim yang paling ekstrem.
Menurut Profesor Dave Reay, Ketua di Carbon Management dan direktur eksekutif Edinburgh Centre for Carbon Innovation di University of Edinburgh, manusia saat ini harus memfokuskan pikiran pada apa yang diinginkan untuk keberlangsungan kehidupan di Bumi selanjutnya.
Memilih antara pemulihan hijau dari energi terbarukan dan efisiensi energi, bahkan ada peluang untuk memenuhi Perjanjian Paris dan menghindari dampak perubahan iklim yang menghancurkan bagi jutaan orang, atau memilih pemulihan bahan bakar fosil dan menempatkan diri pada jalur pemanasan global lebih dari 2 derajat Celsius yang dapat membahayakan generasi mendatang.
Berita Terkait
-
Tak Sekadar Tekan Emisi: Bagaimana Brand F&B Ini Kurangi Limbah Industri?
-
Cuaca Makin Tak Menentu, Terlambatkah Kita Menghadapi Krisis Iklim?
-
Tak Hanya Jadi Sumber Air Bersih, Bagaimana Air Tanah Bantu Ekosistem Laut Simpan Karbon?
-
Mengapa Anak-Anak di Pesisir Menjadi Kelompok yang Paling Menanggung Dampak Krisis Iklim?
-
Mengapa Tekan Emisi Saja Tidak Akan Cukup Selesaikan Krisis Lingkungan? Studi Ungkap Caranya
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Resmi Ngaspal di Jogja Mulai Rp29 Jutaan, Ini Ubahan Radikal Vario Evo 160 yang Bikin Terpesona
-
Ketergantungan Ford pada Teknologi AI Berujung Petaka dan Panggil Kembali Ratusan Insinyur
-
Bagian yang Wajib Diperiksa saat Service Mobil Sebelum Lakukan Road Trip
-
Nasib Aliansi Honda Nissan Mitsubishi Terganjal Pengaruh Renault di Tengah Bayangan Kerugian
-
Wajah Baru New Suzuki XL7 yang Tampil Lebih Sporty dengan Sederet Perubahan Eksterior
-
Pasutri Lansia Indonesia Taklukkan Rute Jakarta Mekkah Pakai Toyota Voxy
-
Pasarkan Produk di Indonesia, Changan Akui Belum Pikirkan Lakukan Perakitan Lokal
-
Inspirasi Yamaha Grand Filano dengan Gaya Racing Look yang Sedang Jadi Tren Modifikasi
-
Ada yang Turun, Ini Update Harga Terbaru BBM per 1 Juli 2026
-
Motor Jarang Dipakai, Kapan Sebaiknya Ganti Oli?