Suara.com - Dunia otomotif kembali diguncang kabar panas. Kali ini, bukan dari persaingan model terbaru atau teknologi mutakhir, melainkan dari strategi diam-diam sang raksasa Jepang, Toyota, yang kabarnya sedang melirik NETA Auto, produsen mobil listrik asal Tiongkok yang tengah berada di ujung tanduk.
Situasi ini ibarat cerita superhero: saat semua harapan nyaris hilang, datang sosok penyelamat yang tak disangka-sangka.
Dilansir dari CarNewsChina, Toyota memang bukan pemain baru di ranah kendaraan listrik, khususnya di pasar Tiongkok.
Mereka sudah menjalin kerja sama dengan berbagai nama besar seperti BYD, FAW, hingga GAC Group.
Kolaborasi tersebut bahkan melahirkan model seperti Toyota bZ3X, yang sukses besar—terjual 10 ribu unit hanya dalam satu jam setelah peluncurannya. Prestasi luar biasa yang jadi bukti, Toyota tahu betul cara menaklukkan pasar mobil listrik terbesar di dunia.
Di sisi lain, kondisi NETA Auto saat ini jauh dari kata ideal. Perusahaan yang pernah dianggap sebagai salah satu bintang baru di industri EV (electric vehicle) kini berada dalam kondisi krisis.
- Pabrik-pabrik mulai ditutup
- Ribuan karyawan terkena PHK
- Utang membengkak, termasuk lebih dari Rp13 triliun kepada para pemasok
- Investor besar menarik diri
Dalam tiga tahun terakhir, kerugian mereka mencapai Rp42 triliun
Bahkan dana BRICS, yang dikenal berani mendanai proyek-proyek ambisius, memilih mundur dari investasi mereka di NETA. Sebuah tanda jelas bahwa kepercayaan pada masa depan perusahaan ini sedang berada di titik nadir.
Namun, justru dalam kondisi inilah Toyota diduga mulai bergerak. Dengan rekam jejak sukses dalam kolaborasi sebelumnya, masuknya Toyota ke orbit NETA bukan tak mungkin menjadi langkah strategis besar berikutnya.
Baca Juga: Menelusuri Jejak 'Mobil Sejuta Umat': Evolusi Toyota Avanza dari Generasi Pertama hingga Terbaru
Mengapa NETA? Jawabannya bisa jadi karena:
- Aset-aset produksi yang masih bisa dimanfaatkan
- Pemahaman mendalam terhadap pasar lokal
- Jejaring distribusi yang sudah terbentuk
- Teknologi EV yang sudah cukup matang
Dengan kata lain, NETA adalah kepingan puzzle yang pas bagi ambisi besar Toyota di pasar kendaraan listrik Tiongkok—dan mungkin dunia.
Yang menarik, pihak Toyota sendiri masih "jual mahal". Xu Yiming, Direktur Komunikasi Toyota China, hanya memberi komentar singkat: “Kami belum dengar kabar apapun.”
Jawaban yang justru menambah aroma misteri dalam drama ini, mirip seperti seseorang yang ditanya soal pacar tapi masih gengsi mengaku.
Sementara itu, di Indonesia, NETA masih berusaha bertahan hidup. Model Neta V-II dan Neta X masih dipasarkan, walaupun sudah mulai terdengar kabar beberapa diler berhenti beroperasi. Ini mengindikasikan tekanan juga sudah terasa di tingkat regional.
Jika Toyota benar-benar masuk, skenario yang mungkin terjadi bisa beragam:
- Pengambilalihan penuh – Toyota membeli dan menyelamatkan seluruh operasi NETA
- Investasi sebagian – masuk sebagai mitra minoritas untuk mengamankan teknologi dan jaringan
- Kemitraan strategis – kerja sama terbatas pada teknologi atau distribusi
- Akuisisi bertahap – seperti membeli waktu sambil menyiapkan langkah besar
Apa pun bentuknya, dampaknya bagi industri akan luar biasa besar. Persaingan akan semakin panas, pemain lain bisa ketar-ketir, dan kolaborasi Toyota-NETA berpotensi menjadi “pasangan baru” yang mengubah peta kekuatan kendaraan listrik global.
Bagi pengamat otomotif, ini bukan sekadar bisnis. Ini permainan strategi tingkat tinggi—sebuah catur industri di mana setiap langkah bisa menentukan masa depan mobilitas.
Kesimpulannya, dalam dunia yang perlahan beralih ke kendaraan listrik, krisis seperti yang dialami NETA bisa jadi bukan akhir—melainkan awal dari era baru.
Dan Toyota? Seperti biasa, mereka tahu kapan harus melangkah. Masa depan masih misterius, tapi satu hal pasti: babak baru dunia mobil listrik baru saja dimulai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Tak Sebatas Sektor Otomotif, IIMS 2026 Gerakkan Pariwisata Indonesia dan Ekonomi Kreatif
-
9 Cara Menghilangkan Bekas Stiker di Motor yang Membandel
-
5 Rekomendasi Oli Mesin Vespa 2 Tak, Harga Mulai Rp40 Ribuan
-
Beli Motor Bekas Tarikan Leasing Apakah Aman? Pertimbangkan Hal Berikut
-
Tetap Berjaya Meski Sudah Ada Penerusnya, Mazda 2 Berapa cc?
-
Terpopuler: Pajak Kendaraan Jateng Meroket tapi Jogja Tetap, NMax Kini Lebih Murah dari Beat
-
Si Hatchback Cakep Underrated, Berapa Harga Mazda 3 dan Pajak Tahunannya?
-
5 Motor Listrik Jarak Tempuh Tembus 100 Km: Sanggup Mudik Lintas Provinsi, Mulai Rp14 Juta
-
Update Harga Motor NMAX Bekas Februari 2026: Mulai Rp15 Jutaan, Cek Pasaran Tahun 2015-2021!
-
Pajak Kendaraan di Jawa Tengah Jadi Sorotan, Ini Simulasi Hitungan Opsen PKB untuk Toyota Avanza