Otomotif / Mobil
Sabtu, 31 Januari 2026 | 13:06 WIB
Xiaomi SU7 Ultra. (Dok. Xiaomi)
Baca 10 detik
  • Xiaomi SU7 Ultra, diluncurkan 27 Februari 2025, awalnya didorong FOMO namun penjualan anjlok drastis sejak September.
  • Penurunan penjualan SU7 Ultra dipicu kontroversi seperti iklan palsu, masalah teknis, dan kebijakan uang muka memberatkan.
  • Meskipun SU7 Ultra meredup, penjualan total Xiaomi Auto 2025 meningkat signifikan berkat model mainstream keluarga.

Artinya, meski SU7 Ultra gagal mempertahankan momentum, dampaknya tidak signifikan terhadap kinerja Xiaomi Auto secara keseluruhan.

Model-model mainstream yang lebih ramah keluarga justru jadi tulang punggung penjualan.

 Apa yang Bisa Dipelajari?

Kasus SU7 Ultra menunjukkan bahwa hype dan FOMO bisa mendorong penjualan awal, tapi tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan. Konsumen kini lebih kritis, menilai bukan hanya performa ekstrem, tapi juga aspek keamanan, kepraktisan, dan reputasi merek.

Lei Jun, pendiri Xiaomi, bahkan sudah menargetkan penjualan 550.000 unit untuk 2026. Fokusnya jelas: memperkuat segmen mobil keluarga yang jadi mainstream, sementara model niche seperti SU7 Ultra hanya berperan sebagai showcase teknologi.

Dengan tren ini, publik tampaknya tak lagi FOMO terhadap mobil listrik berperforma super. Mereka lebih memilih kendaraan yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari, efisien, dan aman, ketimbang sekadar ikut hype sesaat.

Load More