- Ketegangan di Timur Tengah memicu kenaikan harga energi global sehingga mempercepat peralihan konsumen dunia ke kendaraan listrik.
- Ekspor mobil listrik China melonjak hingga 140 persen pada Maret 2026 ke berbagai negara termasuk Asia Tenggara.
- Penurunan permintaan domestik China sebesar 19,2 persen memaksa industri otomotif mengandalkan ekspor sebagai penopang keberlangsungan bisnis mereka.
Suara.com - Ketegangan yang terjadi di wilayah Timur Tengah memicu lonjakan harga energi global yang berdampak signifikan pada peta otomotif dunia. Kondisi ini menjadi pendorong utama meningkatnya ekspor mobil listrik asal China ke berbagai negara termasuk kawasan Asia Tenggara.
Seorang analis senior di Shanghai, Chris Liu, berpendapat bahwa dampak konflik tersebut berpotensi mengubah perilaku konsumen dalam membeli mobil baru. Bahkan kenaikan harga bahan bakar minyak memaksa masyarakat dunia untuk mempercepat peralihan ke kendaraan bertenaga listrik yang lebih efisien.
“Dampak konflik Iran belum sepenuhnya tercermin dalam data Maret, namun berpotensi menjadi pemicu. Selain itu kenaikan tajam harga bahan bakar saat ini juga dinilai ikut mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik,” ujar Chris Liu, dikutip Senin (13/4/2026).
Berdasarkan data asosiasi industri otomotif China, pengiriman mobil penumpang ke luar negeri pada Maret 2026 menembus angka 748.000 unit. Angka ini mencatatkan lonjakan sebesar 82,4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan paling fantastis terlihat pada segmen kendaraan energi baru atau NEV yang mencakup mobil listrik murni dan plug-in hybrid. Ekspor kategori ini menyentuh angka 363.000 unit atau tumbuh lebih dari 140 persen secara tahunan. Ekspansi besar-besaran ini terus merambah pasar strategis di Eropa, Amerika Latin, hingga Asia Tenggara.
Ironisnya, saat permintaan ekspor meledak, pasar domestik China justru mengalami kelesuan. Penjualan di dalam negeri tercatat turun 19,2 persen dengan total 1,7 juta unit pada Maret 2026. Penurunan yang sudah berlangsung selama lima bulan berturut-turut ini disebabkan oleh terpangkasnya subsidi pemerintah serta tekanan ekonomi domestik yang menahan daya beli konsumen.
Tidak hanya itu, geliat pasar internasional akan menjadi penyelamat bagi keberlangsungan industri otomotif negeri tirai bambu tersebut. Diprediksi ekspor mobil listrik China dapat tumbuh sekitar 20 persen sepanjang tahun ini guna menutupi penurunan permintaan di dalam negeri.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Suzuki GSX-8R Anniversary Edition Resmi Meluncur Pakai Corak Ikonik Hayabusa
-
Penjualan Mobil Listrik Suzuki e Vitara di Indonesia Belum Tembus Dua Digit
-
Harga Mobil Suzuki April 2026 Mulai dari City Car hingga SUV Mewah, Paling Murah Berapa?
-
Promo APRILicious Honda, Bawa Pulang Motor Impian Modal Uang Muka Sejuta
-
Tips Rawat Baterai Toyota New Veloz Hybrid EV Agar Konsumsi BBM Tetap Irit
-
Antisipasi Harga BBM Melonjak, Sudah Tahu Cara Bikin Motor Matik Lebih Irit Bensin?
-
Harga Mobil Daihatsu April 2026 Semua Tipe, dari Entry Level hingga SUV
-
Honda PCX160 2026 Resmi Meluncur Bawa Wajah Baru yang Lebih Premium
-
5 Cara Merawat AC Mobil yang Jarang Dipakai, agar Tetap Dingin dan Awet
-
5 Motor Listrik Dengan Baterai LiFePO4, Lebih Awet dan Tidak Cepat Panas