Otomotif / Mobil
Senin, 13 April 2026 | 19:05 WIB
Ilustrasi Mobil Listrik. (Unsplash)
Baca 10 detik
  • Ketegangan di Timur Tengah memicu kenaikan harga energi global sehingga mempercepat peralihan konsumen dunia ke kendaraan listrik.
  • Ekspor mobil listrik China melonjak hingga 140 persen pada Maret 2026 ke berbagai negara termasuk Asia Tenggara.
  • Penurunan permintaan domestik China sebesar 19,2 persen memaksa industri otomotif mengandalkan ekspor sebagai penopang keberlangsungan bisnis mereka.

Suara.com - Ketegangan yang terjadi di wilayah Timur Tengah memicu lonjakan harga energi global yang berdampak signifikan pada peta otomotif dunia. Kondisi ini menjadi pendorong utama meningkatnya ekspor mobil listrik asal China ke berbagai negara termasuk kawasan Asia Tenggara.

Seorang analis senior di Shanghai, Chris Liu, berpendapat bahwa dampak konflik tersebut berpotensi mengubah perilaku konsumen dalam membeli mobil baru. Bahkan kenaikan harga bahan bakar minyak memaksa masyarakat dunia untuk mempercepat peralihan ke kendaraan bertenaga listrik yang lebih efisien.

“Dampak konflik Iran belum sepenuhnya tercermin dalam data Maret, namun berpotensi menjadi pemicu. Selain itu kenaikan tajam harga bahan bakar saat ini juga dinilai ikut mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik,” ujar Chris Liu, dikutip Senin (13/4/2026).

Berdasarkan data asosiasi industri otomotif China, pengiriman mobil penumpang ke luar negeri pada Maret 2026 menembus angka 748.000 unit. Angka ini mencatatkan lonjakan sebesar 82,4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan paling fantastis terlihat pada segmen kendaraan energi baru atau NEV yang mencakup mobil listrik murni dan plug-in hybrid. Ekspor kategori ini menyentuh angka 363.000 unit atau tumbuh lebih dari 140 persen secara tahunan. Ekspansi besar-besaran ini terus merambah pasar strategis di Eropa, Amerika Latin, hingga Asia Tenggara.

Ironisnya, saat permintaan ekspor meledak, pasar domestik China justru mengalami kelesuan. Penjualan di dalam negeri tercatat turun 19,2 persen dengan total 1,7 juta unit pada Maret 2026. Penurunan yang sudah berlangsung selama lima bulan berturut-turut ini disebabkan oleh terpangkasnya subsidi pemerintah serta tekanan ekonomi domestik yang menahan daya beli konsumen.

Tidak hanya itu, geliat pasar internasional akan menjadi penyelamat bagi keberlangsungan industri otomotif negeri tirai bambu tersebut. Diprediksi ekspor mobil listrik China dapat tumbuh sekitar 20 persen sepanjang tahun ini guna menutupi penurunan permintaan di dalam negeri.

Load More