- Peneliti ITB Agus Purwadi mendesak pemerintah mengevaluasi pajak mobil sebesar 40 persen yang menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
- Pemerintah disarankan melakukan studi banding struktur pajak dengan Thailand atau Malaysia agar industri otomotif dalam negeri berkembang.
- Gaikindo menyatakan beban pajak pusat dan daerah yang tinggi secara signifikan meningkatkan harga jual mobil bagi konsumen.
Suara.com - Peneliti senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi mendesak pemerintah segera mengevaluasi besaran pajak mobil baru di Indonesia. Saat ini beban pajak yang mencapai 40 persen dianggap terlalu berat bagi konsumen serta menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Agus menguraikan bahwa seluruh beban pajak tersebut dibebankan langsung kepada pembeli dalam bentuk harga jual. Ia menyarankan agar Indonesia melakukan studi banding atau benchmark dengan negara tetangga yang memiliki industri otomotif kuat.
"Paling gampang kita benchmark. Mestinya kalau lihat di negara pesaing kita biasanya dua yang paling dekat itu, kalau nggak Thailand, ya Malaysia," kata Agus dalam sebuah pernyataan di Jakarta.
Menurutnya pemerintah perlu mempelajari bagaimana struktur pajak di negara pesaing tersebut agar industri dalam negeri bisa tumbuh lebih sehat. "Jadi kita bisa lihat lah dua negara itu, pelajari bagaimana struktur tax," ucapnya lagi.
Agus berpendapat bahwa pengurangan pajak akan meningkatkan minat beli masyarakat secara signifikan yang kemudian berdampak luas pada ekonomi nasional.
"Jadi cara yang paling gampang, menguranginya yaitu, supaya ekonominya tumbuh dulu. Kenapa? Karena kalau ekonominya tidak tumbuh, tidak sehat, industri tidak tumbuh, maka yang terjadi adalah, apa, menggerus. Menggerus daya beli dan sebagainya," tutur Agus.
Senada dengan hal tersebut, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menyebut tingginya pajak menjadi faktor utama meroketnya harga mobil baru. Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto menjelaskan bahwa konsumen harus menanggung beban pajak pusat dan daerah yang sangat besar.
"Kalau mobil harga Rp100 juta, berapa yang diterima APM, berapa yang masuk ke pemerintah pusat dan daerah. Itu sekitar 40 persen ke pusat dan daerah," kata Jongkie.
Beban tersebut terdiri dari Pajak Pertambahan Nilai atau PPN sebesar 12 persen dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atau PPnBM minimal 15 persen.
Baca Juga: Pajak Kendaraan Turun Drastis Khusus Kendaraan Ini di 2026, Diskon Gede-gedean
"Itu saja sudah 27 persen, belum lagi ada PPh yang masuk ke kas pemerintah pusat," kata dia.
Selain pajak pusat, terdapat pula pungutan daerah seperti Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebesar 12,5 persen dan Pajak Kendaraan Bermotor sebesar 2,5 persen saat membeli mobil baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam