- Pemerintah mencabut insentif bebas pajak tahunan bagi kendaraan listrik melalui Permendagri Nomor 11 2026.
- Kebijakan ini dinilai memberatkan dan bertolak belakang dengan rencana elektrifikasi menekan ketergantungan BBM.
- Beban rakyat kelas menengah kian bertambah dengan wacana pengenaan PPN untuk jasa jalan tol.
Suara.com - Nasib kelas menengah kian tercekik oleh rentetan beban baru dari pemerintah. Di tengah mahalnya harga BBM dan wacana PPN jalan tol, pajak untuk mobil listrik justru akan diberlakukan.
Padahal, kendaraan listrik sebelumnya digadang-gadang sebagai solusi hemat bagi masyarakat pekerja. Sayangnya, status bebas pajak tahunan untuk inovasi ini kini resmi dicabut.
Kebijakan tumpang tindih ini jelas menjadi pukulan telak bagi dompet masyarakat. Harapan untuk hidup lebih hemat di tengah gempuran inflasi kini perlahan pupus.
Impian Elektrifikasi yang Terhambat Regulasi
Pemerintah baru saja menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 11 Tahun 2026. Aturan ini menghapus pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) untuk roda empat tanpa emisi.
Otomatis, para pemilik mobil kini harus merogoh kocek untuk bayar tagihan tahunan. Padahal sebelumnya, beban PKB untuk jenis kendaraan ramah lingkungan ini adalah Rp 0.
Keputusan ini tentu sangat mengejutkan pasar otomotif Tanah Air. Masyarakat diprediksi akan kembali enggan untuk beralih meninggalkan kendaraan konvensional.
Kondisi ini seolah bertolak belakang dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto. Beliau gencar mendorong elektrifikasi demi menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang makin melambung.
Bahkan, Presiden baru-baru ini mengumumkan sebuah proyek yang cukup ambisius. Beliau merencanakan produksi massal sedan setrum sebagai salah satu mobil nasional masa depan.
Baca Juga: Di Balik Ambisi B50 Dikritik: Diklaim Hemat Energi, Tapi Bebani Lingkungan dan Rakyat
Ancaman Beban Ganda bagi Konsumen
Kehadiran Permendagri Nomor 11 Tahun 2026 jelas menjadi batu sandungan baru menuju transisi energi. Selain menghambat minat adopsi masyarakat, regulasi ini diyakini bisa mengancam laju investasi.
Konsumen mutlak harus bersiap menanggung beban finansial yang berlipat ganda. Sebagai gambaran kasar, pembelian mobil seharga Rp 400 juta kini tidak lagi murah meriah.
Pemilik kendaraan akan dikenakan biaya bea balik nama sekitar Rp 48 juta. Angka ini masih ditambah tagihan rutin tahunan yang mencapai kisaran Rp 5 jutaan.
Pemerintah semestinya menguatkan berbagai insentif demi membangun ekosistem ramah lingkungan yang stabil. Peninjauan ulang regulasi kontroversial ini merupakan langkah krusial yang harus segera dilakukan.
Subsidi energi juga tetap harus dijaga agar benar-benar tepat sasaran secara bertahap. Hal ini sangat penting untuk meredam potensi syok ekonomi secara massal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan