- Masyarakat Indonesia menunjukkan peningkatan minat terhadap kendaraan PHEV pada model Wuling Eksion dibandingkan dengan model sebelumnya.
- Data Wuling mencatat kenaikan proporsi pemesanan varian PHEV dari 20 persen menjadi 30 persen per Juni 2026.
- Wuling menilai teknologi PHEV sebagai jembatan elektrifikasi realistis bagi konsumen yang belum siap beralih ke mobil listrik.
Suara.com - Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mulai menunjukkan grafik pertumbuhan yang menggembirakan. Hal tersebut tercermin dari komposisi pemesanan model terbaru Wuling Eksion yang menawarkan dua pilihan teknologi ramah lingkungan yakni EV dan PHEV.
Brand Communication Senior Manager Wuling Motors Brian Gomgom menyebutkan bahwa minat konsumen terhadap varian PHEV kini mulai meningkat signifikan dibandingkan model yang sebelumnya dipasarkan oleh Wuling. Data internal menunjukkan adanya pergeseran minat yang cukup menarik antara model lama dengan model terbaru yang baru saja diluncurkan.
"Kalau dari Wuling Darion, kemarin EV nya 80 persen dan PHEV 20 persen. Tetapi di Eksion ini, EV nya 70 persen dan PHEV nya 30 persen. Jadi sudah mulai terlihat tren PHEV ini naik," ujar Brian Gomgom, pada Kamis (4 Juni 2026).
Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat mulai melirik teknologi PHEV sebagai salah satu alternatif kendaraan elektrifikasi yang sangat realistis untuk kondisi saat ini. Gomgom menilai perkembangan tersebut memiliki pola yang serupa dengan perjalanan pasar kendaraan listrik murni di Indonesia beberapa tahun lalu di mana pangsa pasar yang semula kecil kini mampu tumbuh pesat dalam waktu singkat.
Wuling merasa optimis bahwa segmen PHEV memiliki potensi besar untuk terus berkembang di pasar otomotif nasional. Apalagi saat ini semakin banyak produsen otomotif yang juga menghadirkan model serupa sebagai bagian dari strategi elektrifikasi global mereka. Karakteristik PHEV dianggap sangat ideal bagi konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke ekosistem kendaraan listrik murni karena faktor infrastruktur maupun kebiasaan berkendara.
"Masih ada sebagian orang yang belum berani hijrah langsung ke EV. Sehingga PHEV ini menjadi jembatan antara kendaraan bermesin konvensional dan mobil listrik," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub
-
Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI
-
Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK
-
Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029
-
Gaji Bukan Hambatan, Pep Guardiola Berpeluang Tangani Timnas Italia
-
Pakar Jelaskan Soal BPA pada Galon Guna Ulang, Benarkah Berbahaya?
-
Green Label Jadi Tren Baru Bangunan, Material Ramah Lingkungan Semakin Diminati
-
Mendagri Tito Heran Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Padahal Sudah Ikut Retret
-
Kriminolog: TPPU Pintu Masuk untuk Kasus Eks Jampidsus