- Toyota menarik lebih dari 270.000 unit truk Tundra dan Lexus LX akibat kontaminasi mesin V6 sejak Mei 2024.
- Kontaminasi material pada bantalan mesin menyebabkan risiko mesin mati mendadak dan performa kendaraan yang tidak stabil saat digunakan.
- Toyota mengganti metode perbaikan dari penggantian mesin penuh menjadi penggunaan perangkat lunak inspeksi per 15 Juni 2026.
Suara.com - Kabar kurang sedap datang dari raksasa otomotif Toyota yang tengah berupaya memadamkan api kritik dari para konsumen setianya.
Lebih dari 270.000 unit kendaraan di Amerika Serikat, yang mencakup truk Toyota Tundra dan SUV mewah Lexus LX, harus ditarik kembali atau recall akibat masalah serius pada mesin V6 twin-turbo, menurut laporan The Drive.
Namun, bukan hanya soal kerusakan mesin yang bikin para pemilik mobil ini naik pitam, melainkan cara Toyota menangani masalah tersebut yang dinilai lebih mementingkan penghematan biaya ketimbang keamanan konsumen.
Masalah utama yang memicu gelombang recall ini berfokus pada mesin berkode V35A-FTS.
Ditemukan adanya sisa-sisa kotoran produksi atau "swarf" yang menempel pada bantalan utama (main bearing) mesin.
Kotoran ini bukan perkara sepele karena bisa menyebabkan suara ketukan (knocking), putaran mesin tidak stabil saat berhenti (rough idle), hingga mesin yang mati total secara tiba-tiba saat dikendarai.
Sejauh ini, sudah ada tiga kali pengumuman recall terkait isu ini, dimulai sejak Mei 2024 hingga yang terbaru pada Mei 2026.
Yang memicu kemarahan publik adalah protokol terbaru yang dirilis pada 15 Juni 2026.
Jika sebelumnya Toyota langsung melakukan penggantian mesin secara menyeluruh—yang sudah dilakukan pada lebih dari 70.000 unit—kini produsen asal Jepang tersebut justru beralih menggunakan perangkat lunak (software) inspeksi untuk menentukan nasib kendaraan.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Recall Honda: Bagaimana Karat Subframe Menghancurkan Geometri Kaki-kaki Mobil?
Dealer tidak akan langsung mengganti mesin, melainkan menggunakan software untuk mengevaluasi kondisi bantalan utama nomor satu melalui frekuensi resonansi dari poros engkol (crankshaft).
Data berkendara pemilik juga akan dikumpulkan untuk melihat apakah mesin sudah menerima beban yang cukup sehingga penilaian software bisa dianggap akurat.
Jika hasil software menunjukkan tidak ada keausan abnormal, maka mesin tidak akan diganti. Langkah ini menuai kritik pedas dari komunitas pemilik kendaraan.
Ryan Gregg, salah satu aktivis pemilik Tundra, menyatakan kekecewaannya dan menyebut bahwa langkah ini seolah-olah hanya cara Toyota untuk menahan "pendarahan finansial" dan menghindari pengakuan adanya cacat desain yang mendasar.
Keresahan ini juga tumpah di grup media sosial, seperti grup Facebook pemilik Toyota Tundra 2022+, di mana para anggota merasa lelah dengan drama penanganan yang bertele-tele.
Padahal, Toyota telah membangun reputasi global selama puluhan tahun sebagai produsen kendaraan paling andal dan tahan banting.
Berita Terkait
-
Nongol di Dealer, Mitsubishi Kenalkan Mobil Listrik dengan Harga Mirip BYD Atto 1
-
3 Mobil Mitsubishi Termurah tapi Belum Ketuaan: Mulai 90 Jutaan, Maticnya Jarang Masuk Bengkel
-
CVT Mitsubishi Xpander vs Toyota Veloz Lebih Awet Mana? Begini Kata Mekanik
-
BMW Terjebak Krisis Setelah Pangkas Target Laba dan Saham Merosot Tajam
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis