Riset: Benarkah SPKLU Bikin Baterai Mobil Cepat Rusak?

Jum'at, 06 November 2026 | 14:54 WIB
Ilustrasi SPKLU/DC Charger
BACA 10 DETIK
  • Studi Geotab 2026 mengungkapkan penggunaan SPKLU cepat di atas 100 kW menyebabkan penurunan kapasitas baterai mobil listrik tiga persen per tahun.
  • Arus listrik tinggi dari pengisian cepat memicu fenomena kimia lithium plating dan panas berlebih yang mempercepat kerusakan komponen sel baterai.
  • Pemilik mobil listrik disarankan mengutamakan pengisian lambat di rumah dan membatasi penggunaan fasilitas pengisian cepat khusus untuk perjalanan jauh.

Suara.com - Penggunaan stasiun pengisian daya cepat atau SPKLU (DC) memang menawarkan kepraktisan berlipat bagi pemilik mobil listrik, tetapi kebiasaan ini berpotensi mempercepat degradasi baterai.

Studi terbaru dari Geotab pada 2026 mengungkapkan bahwa kendaraan listrik yang terlalu sering memanfaatkan pengisian daya cepat di atas 100 kW mengalami penurunan kapasitas baterai hingga 3 persen per tahun, dibanding 1,5 persen pada pengisian lambat.

Kendati demikian, fast charging tetap aman digunakan secara berkala saat perjalanan jauh, asalkan pengisian daya harian tetap diutamakan menggunakan pengisi daya lambat di rumah.

Efek Samping Pengisian Daya Cepat: Lithium Plating dan Panas Berlebih

Kemudahan menambah daya jangkau ratusan kilometer dalam waktu singkat kerap membuat pemilik mobil listrik tergiur untuk selalu menyambungkan kendaraannya ke fasilitas pengisian cepat.

Namun, para pakar teknologi kendaraan listrik mengingatkan adanya dampak fisik jangka panjang pada sel baterai apabila kebiasaan ini terus dilakukan.

Bahkan produsen besar seperti Tesla secara resmi menyarankan pemilik kendaraan untuk melakukan pengisian harian di rumah dan menyimpan penggunaan jaringan Supercharger khusus untuk perjalanan jarak jauh.

Secara teknis, saat baterai lithium-ion diisi arus listrik, ion lithium akan bergerak menuju elektroda grafit di dalam sel baterai.

Laju arus yang sangat tinggi dari fast charger memaksa ion bergerak terlalu cepat hingga menumpuk di permukaan elektroda, suatu fenomena kimia yang dikenal sebagai lithium plating.

Proses penumpukan ini secara permanen mengurangi jumlah ion lithium bebas yang tersedia untuk menyimpan energi.

Di samping itu, arus listrik deras memicu lonjakan suhu atau panas berlebih pada baterai. Panas tinggi inilah yang mempercepat proses penuaan komponen internal sel baterai.

Oleh sebab itu, sistem manajemen baterai pada mobil listrik canggih akan secara otomatis membatasi laju daya pengisian saat kapasitas baterai berada di luar rentang ideal 10 hingga 80 persen demi melindungi kesehatan sel.

Ilustrasi mobil listrik

Temuan Riset Geotab: Degradasi Kapasitas hingga 3 Persen Per Tahun

Dampak nyata dari penggunaan pengisian arus searah (DC) berdaya tinggi dibuktikan dalam riset komprehensif yang dirilis oleh Geotab pada tahun 2026.

Studi yang menganalisis hampir 23.000 unit mobil listrik tersebut menemukan bahwa kendaraan yang secara rutin diisi daya pada stasiun pengisian di atas 100 kW mengalami penurunan kapasitas baterai hingga 3 persen setiap tahunnya.

Sebagai perbandingan, kendaraan listrik yang lebih sering diisi menggunakan fasilitas pengisian lambat (slow charging) hanya mengalami degradasi kapasitas rata-rata sebesar 1,5 persen per tahun.

Penurunan kapasitas baterai secara langsung berdampak pada berkurangnya jarak tempuh maksimal kendaraan dalam sekali pengisian penuh.

Meskipun demikian, para ahli menekankan bahwa hasil riset ini bukan berarti pemilik mobil listrik harus menghindari SPKLU Fast Charger sama sekali. Pengisian daya cepat dapat dianalogikan seperti mengonsumsi makanan cepat saji (fast food).

Menyantapnya sesekali saat terdesak atau melakukan perjalanan lintas kota sangat membantu dan tidak masalah, tetapi menjadikannya sebagai 'makanan harian' dapat menurunkan daya tahan baterai jangka panjang.

Panduan Aman Mengisi Daya Baterai Kendaraan Listrik

Guna menjaga umur pakai baterai tetap panjang dan sehat, para pakar otomotif membagikan beberapa panduan pengisian daya yang bijak.

Langkah utama adalah membiasakan pengisian daya lambat (AC) di rumah untuk kebutuhan harian dan membatasi pengisian di stasiun pengisian cepat saat melakukan perjalanan jauh.

Selain itu, pemilik disarankan untuk menerapkan pola pengisian daya di rentang 10 hingga 80 persen.

Mengisi daya hingga penuh 100 persen secara terus-menerus memberikan tekanan kimiawi berlebih pada sel baterai, terutama pada jenis baterai berbahan kimia Nickel Manganese Cobalt (NMC).

Sementara itu, baterai jenis Lithium Iron Phosphate (LFP) tergolong lebih toleran terhadap pengisian penuh, meski pengisian berkala tetap disarankan agar sel baterai tidak mengalami penurunan performa prematur.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com