/
Senin, 09 Oktober 2023 | 11:41 WIB
Konflik Israel Palestina menimbulkan Perang Israel Palestina di Jalur Gaza. (Mohammed ABED / AFP)

SUARA PEKANBARU - Amer Ashour benar-benar tak berdaya saat mendengar sang istri yang sedang hamil mulai merasakan nyeri ketika akan persalinan. Dia gelap mata lantaran di saat yang samaa Israel mulai membombardir Jalur Gaza yang terkepung pada malam Sabtu, 8 Oktober 2023.

Mereka bergegas ke rumah sakit bersalin terdekat di mana pasangan tersebut diberkati dengan kelahiran seorang bayi laki-laki, anak kedua mereka. 

Namun, yang tidak mereka harapkan adalah ketika pulang ke rumah justru menemukan tidak ada jejaknya kecuali tumpukan puing dan batu.

Pasukan Israel membombardir gedung 11 lantai tempat pasangan tersebut tinggal, di lingkungan Al-Nasr di sebelah barat Kota Gaza, setelah kelompok bersenjata Palestina, Hamas, meluncurkan serangan tak terduga di dalam Israel pada Sabtu sebelumnya.

"Apa yang paling saya takuti ketika eskalasi dimulai adalah istri saya hendak melahirkan. Saya khawatir bagaimana kami akan sampai ke rumah sakit di tengah terus menerusnya serangan," kata Ashour kepada Al Jazeera. 

"Tapi sama sekali saya tidak mengharapkan rumah saya akan dibom dan hancur seperti saat ini," kata dia.

Israel pada hari Minggu menyatakan "keadaan perang" dan menyetujui "langkah-langkah militer untuk melakukan serangan" setelah serangan mengejutkan Hamas. 

Pertempuran sengit yang menyusul telah menewaskan lebih dari 1.000 orang - termasuk setidaknya 400 di Gaza - dan melukai ribuan orang di kedua belah pihak.

"Pukul empat pagi, saya terkejut mendapat panggilan untuk kami mengungsi dari menara, yang telah diancam akan dibom oleh Israel," kata Al-Hassi kepada Al Jazeera.

Baca Juga: KERAS! Jika Israel Terus Bombardir Gaza, Jubir Brigade Al Qassam: Setiap Serangan akan Mengurangi Nyawa Sandera yang Ditawan

Kendaraan pertahanan sipil dan ambulans bergegas untuk mengevakuasi penghuni gedung beberapa menit sebelum dibom, menyebabkan kepanikan di antara keluarga yang tinggal di sana.

"Sampai saat ini, saya masih terkejut bahwa menara itu menjadi sasaran. Menara perumahan dan sipil par excellence, dengan klinik, perusahaan, dan pusat kecantikan? Di mana aktivitas militer yang diklaim Israel?" kata Al-Hassi kepada Al Jazeera.

"Sekarang kita semua, saudara saya dan keluarga saya, menjadi tunawisma dan kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," kata Youssef Al-Bawab, yang tinggal di gedung seberang Menara Al-Watan, mengatakan kepada Al Jazeera.

"Kami merasa sangat ketakutan. Menara itu hanya beberapa meter dari kami dan itu adalah menara sipil. Kami tidak melihat aktivitas perlawanan di dalamnya seperti yang diklaim oleh Israel," ucapnya.

Gedung tempat Al-Bawab tinggal dengan 150 orang lainnya rusak parah dan tidak dapat dihuni. 

Beberapa rumah dan bangunan lain di sekitar Menara Al-Watan juga rusak parah setelah serangan bom.

"Israel mengatakan mereka menargetkan pejuang perlawanan, situs militer, dan bangunan yang dimiliki oleh Hamas, tetapi kenyataannya berbeda. Saya percaya Israel dengan sengaja menargetkan warga sipil dan menggusur mereka untuk memberikan tekanan lebih pada Hamas," kata Al-Bawab. 

"Tapi apa salah kami? Ke mana kita akan pergi?" kata dia menegaskan.

Mohammed Salah, dari lingkungan Beit Lahia di utara Gaza, mengatakan ia meninggalkan rumahnya dan berlindung di sekolah yang dijalankan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa bersama dengan keluarga lain dari daerah tersebut.

"Semalam, pesawat Israel secara acak membom daerah kami. Situasinya sangat berbahaya, jadi saya meninggalkan rumah saya bersama keluarga lainnya," kata ia kepada Al Jazeera.

"Bom Israel tidak membedakan antara warga sipil dan pejuang perlawanan. Dalam setiap perang, kita meninggalkan rumah kami karena bom yang sembrono," katanya.

"Kami telah tinggal selama bertahun-tahun, tanpa ada yang membela atau berdiri untuk kami. Kami memiliki hak untuk melawan penjajah kami," kata Salah. (*)

Load More