/
Selasa, 13 Juni 2023 | 18:05 WIB
Muhammad Dimas Alfahri (2) digendong Ibunya ((ponorogo.suara.com/dedy.s))

Suara Ponorogo - Muhammad Dimas Alfahri (2), seorang balita ceria asal Ponorogo, sedang menghadapi tantangan yang berat setelah kepergian sang ayah.

Dimas mengalami bengkak pada mata kirinya, namun keluarganya mencoba menguatkan diri dan mencari solusi untuk menghadapi situasi ini dengan penuh harapan.

Dimas, anak ketiga dari almarhum Taji dan Sri Wahyuni, merupakan seorang anak yang sehat dan penuh keceriaan sebelum sang ayah meninggal dunia akibat penyakit stroke, pasca perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Kepergian sang ayah memberikan dampak emosional yang besar bagi Dimas, yang secara tak terbendung menangis dan merasakan kehilangan yang mendalam, bahkan ketika digendong oleh ibunya.

Muhammad Endro, pamannya yang peduli, menceritakan bahwa sebelumnya Dimas dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan pada mata kirinya.

Namun, setelah sang ayah pergi, kondisi mata kirinya memburuk dan membuat Dimas sering menangis hingga matanya menjadi merah dan bengkak seperti sekarang.

"Setelah ayahnya meninggal, Dimas sering menangis hingga matanya menjadi merah dan bengkak seperti sekarang," ungkap Endro pada Senin (12/6/2023).

Dalam menghadapi situasi ini, keluarga Dimas mencari bantuan medis untuk mencari pemahaman dan penanganan yang tepat. 

Dr. Dessira Rizka Tri Ariany, seorang dokter spesialis mata, menjelaskan bahwa kasus seperti ini sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 17 tahun, terutama pada usia 5-7 tahun.

Baca Juga: Ibu Virgoun Ngeluh Cuma Dikasih Jatah Rp 2,7 Juta Per Bulan, Inara Rusli: Yang Nyusun Anggaran Semua Bapak

Dr. Dessira mengungkapkan kecurigaannya terhadap keganasan Rhabdomyosarcoma, sebuah tumor yang tumbuh dengan cepat dalam waktu singkat pada jaringan otot mata. 

“Itu saya tanya itu satu bulan langsung cepat, nah saya curiga itu suatu keganasan Rhabdomyosarcoma” ungkapnya

Ia menekankan bahwa faktor genetik merupakan penyebab umum tumor ini, bukan karena menangis. Tumor ini bisa terjadi tanpa gejala yang jelas, seperti menangis, dan deteksi dini sangat penting untuk mengatasi masalah ini.

Dalam kasus seperti ini, dr. Dessira merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti CT scan dan MRI untuk diagnosis yang akurat.

Jika tumor terkonfirmasi, pengobatan yang direkomendasikan melibatkan kombinasi kemoterapi, radioterapi, dan operasi. 

Ia juga menekankan bahwa dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, angka harapan hidup bagi pasien tumor mata ini bisa mencapai 90 persen.

Meskipun tantangan yang dihadapi oleh Muhammad Dimas Alfahri dan keluarganya tidak mudah, semangat mereka untuk mencari pengobatan dan memperoleh harapan yang lebih baik adalah inspirasi yang luar biasa.

Keluarga mereka bersama-sama memperjuangkan kesembuhan Dimas dengan keyakinan dan tekad yang kuat.

Mari kita bersama-sama mendoakan agar Dimas dan keluarganya mendapatkan dukungan dan kesembuhan yang mereka butuhkan, serta semoga Dimas bisa kembali bermain, tertawa, dan tumbuh dengan penuh keceriaan seperti sebelumnya.
 

Load More